PURWOREJO, Lingkarjateng.id – Tim 36 Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Diponegoro berhasil menyelesaikan pembangunan biodigester berbasis kotoran sapi di Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Program ini menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi tepat guna yang bertujuan mendukung pengelolaan limbah ternak secara ramah lingkungan serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan di tingkat desa.
Kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan Karnoto, S.T., M.T., Dr. Septo Pawelas Arso, S.KM., MARS., dan Prof. Dr. Eng. Eko Hidayanto, S.Si., M.Si., F.Med., yang memberikan arahan baik dari sisi teknis, keselamatan kerja, hingga aspek keberlanjutan dan dampak lingkungan. Pendampingan tersebut menjadi penguatan akademik agar program yang dijalankan mahasiswa selaras dengan kebutuhan masyarakat dan prinsip keilmuan.
Pembangunan biodigester dilaksanakan secara bertahap sejak 8 Januari 2026 dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat setempat. Kegiatan diawali dengan pemetaan lokasi biodigester yang mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar kandang ternak, ketersediaan bahan baku kotoran sapi, aksesibilitas lokasi, serta aspek keamanan dan kenyamanan operasional. Tahapan ini menjadi fondasi penting agar biodigester dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Setelah lokasi ditetapkan, kegiatan dilanjutkan dengan proses penggalian tanah sesuai desain dan kapasitas biodigester yang telah direncanakan. Proses penggalian dilakukan secara gotong royong bersama warga desa, sehingga turut menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun. Selanjutnya, pemasangan bata dilakukan sebagai struktur utama digester dengan memperhatikan kekuatan konstruksi dan kerapatan dinding untuk mendukung proses fermentasi anaerob di dalam digester.
Tahap berikutnya adalah pengecoran digester yang bertujuan membentuk ruang kedap udara sebagai tempat utama fermentasi kotoran sapi. Proses pengecoran dilakukan secara bertahap dan diawasi langsung oleh Tim 36 KKNT UNDIP untuk memastikan kualitas bangunan sesuai dengan perencanaan teknis. Pengawasan mencakup pencampuran material, teknik pengecoran, hingga tahap pengeringan struktur.
Selama seluruh rangkaian pembangunan, Tim 36 KKNT UNDIP secara aktif melakukan pengawasan terhadap aktivitas kerja di lapangan. Mahasiswa juga memberikan pengenalan dan penerapan safety induction kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses konstruksi. Pengenalan keselamatan kerja ini meliputi penggunaan alat pelindung diri, tata cara kerja yang aman, serta upaya pencegahan risiko kecelakaan, sehingga kegiatan pembangunan dapat berjalan dengan tertib dan aman.
Selain pembangunan digester utama, tim juga melakukan pembuatan slurry receiver sebagai wadah penampung hasil olahan biodigester. Slurry yang dihasilkan dari proses fermentasi kotoran sapi ini direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sehingga tidak hanya mengurangi limbah ternak, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kegiatan pertanian warga. Keberadaan slurry receiver menjadi bagian penting dalam sistem biodigester agar hasil olahan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dalam proses pembangunan, Tim 36 KKNT UNDIP juga menerapkan prinsip tata graha konstruksi dengan menjaga kebersihan, kerapian, dan keteraturan area kerja. Penataan alat, material bangunan, serta pengelolaan sisa konstruksi dilakukan secara sistematis untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi mahasiswa maupun masyarakat.
Melalui pembangunan biodigester berbasis kotoran sapi ini, Tim 36 KKNT UNDIP berharap masyarakat Desa Tangkisan dapat memiliki sarana pengolahan limbah ternak yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran biodigester diharapkan mampu membantu mengurangi pencemaran lingkungan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah ternak, serta membuka peluang pemanfaatan hasil olahan biodigester bagi kebutuhan pertanian dan energi di masa mendatang.
Program ini menjadi wujud nyata peran mahasiswa Universitas Diponegoro dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan warga desa, pembangunan biodigester ini diharapkan dapat menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan kondisi serupa.
Penulis: Tim 36 KKNT Undip

































