Jepara (lingkarjateng.id) – Pemprov Jawa Tengah mendorong pemanfaatan biogas tak hanya sebagai sumber energi bersih, namun juga menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Seperti program Gebrak Bio (Gebrakan Bernilai Ekonomi Produk Biogas) yang dilakukan di Kabupaten Jepara.
Program tersebut diluncurkan, sebagai upaya mengolah bio-slurry atau ampas biogas menjadi produk bernilai guna, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair (POC), dan media tanam.
Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Muria, pada Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Diana Kristina mengatakan pemanfaatan biogas seharusnya tidak berhenti pada penggunaan gas sebagai sumber energi rumah tangga.
“Biogas tidak berhenti pada gas. Dari prosesnya diperoleh bio-slurry yang masih memiliki potensi. Melalui Gebrak Bio, potensi itu kita olah menjadi produk yang bermanfaat, dan diharapkan bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya, saat dikonfirmasi Rabu (7/10/2026).
Menurut Diana, pengolahan bio-slurry menjadi produk pertanian merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Kotoran ternak yang sebelumnya menjadi bahan baku biogas, setelah melalui proses fermentasi, menghasilkan gas sekaligus ampas yang masih dapat dimanfaatkan.
Dalam skema tersebut, kotoran ternak diolah menjadi biogas sebagai energi bersih. Sementara bio-slurry yang dihasilkan kemudian diproses menjadi pupuk organik dan media tanam, sehingga memiliki nilai tambah dan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Ditambahkan, program Gebrak Bio dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia usaha. Dikatakan, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting, agar manfaat instalasi biogas dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Kita ingin manfaat biogas tidak berhenti ketika gasnya sudah digunakan. Ampas biogas juga harus memberikan manfaat. Ketika bio-slurry dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, maka manfaat instalasi biogas menjadi semakin lengkap,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Mudhofir mengapresiasi upaya tersebut. Dia mengatakan, pemanfaatan bio-slurry membuka peluang baru bagi masyarakat, khususnya kelompok tani.
“Jangan melihat limbah sebagai akhir dari sebuah proses. Lihatlah sebagai awal dari sebuah nilai,” tandasnya.***
































