Banteng vs Celeng kian Memanas, DPD PDIP Minta Kader Tegak Lurus dengan Partai

ILUSTRASI: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. (ISTIMEWA/LINGKARJATENG.ID)

ILUSTRASI: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. (ISTIMEWA/LINGKARJATENG.ID)

SEMARANG, Lingkarjateng.id – Perseteruan di kubu internal Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan kian memanas. Bahkan, kali ini muncul sebutan Banteng versus Celeng dari mulut Ketua dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Tengah (Jateng), Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, beberapa waktu lalu. Pihaknya menegaskan, kader yang keluar dari barisan bukanlah Banteng, melainkan Celeng.

Munculnya adagium tersebut bermula dari Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Purworejo, Albertus Sumbogo dan beberapa pengurus yang mendeklarasikan diri siap mendukung Ganjar Pranowo maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Sehingga, istilah celeng tersebut terlontar untuk kader PDIP yang mendukung Ganjar Pranowo dalam Pilpres 2024.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPD PDIP Jateng Abang Baginda Muhammad Mahfuz Hasibuan menyampaikan, istilah Banteng dan Celeng bukan istilah yang baru. Melainkan sudah ada sejak lama.

“Istilah Banteng dan Celeng, menurut saya sudah ada berkat dari pidato Bung Karno pada tanggal 23 Januari 1945. Dalam pidatonya, Bung Karno mengatakan syarat terbentuknya partai pelopor adalah disiplin kader partai. Karena itu, PDIP ketika menjadi partai pelopor yakni semua kader harus disiplin, ” kata Abang Baginda, Rabu (13/10/21).

Anggota Komisi C DPRD Jateng itu menambahkan, kedisiplinan yang dimaksud, merupakan kader partai yang tegak lurus terhadap apa yang menjadi keputusan partai maupun Ketua Umum PDIP. Oleh karenanya, kader harus memiliki pedoman sikap politik, kebijakan, dan perjuangan partai.

Lebih lanjut, Baginda mengumpamakan karakteristik hewan Banteng sebagai satwa yang memiliki sifat selalu berkelompok, dengan pimpinan banteng jantan yang kuat dan perkasa.

Oleh karena itu, pimpinan Banteng harus mampu melindungi anggotanya atau banteng-banteng lainnya.

“Itulah karakter banteng. Kalau Celeng tidak, hewan yang hidup sendiri dan cenderung merusak. Istilah Banteng adalah kader, yang sebenarnya kader PDIP. Celeng itu, katanya kader PDIP, tapi tidak sesuai dengan karakter dari PDIP,” terangnya.

Baginda menegaskan, narasi Banteng vs Celeng tidak akan mempengaruhi solidaritas PDIP, khususnya di Jawa Tengah.

Bahkan, ia yakin, pasca-kejadian ini, PDIP akan semakin solid jika ada individu maupun kelompok yang hendak memecah belah partainya.

“Ini tak berpengaruh, justru para banteng akan semakin solid dan merapatkan barisan. Sedangkan urusan calon presiden maupun wakil presiden itu urusan Ibu Ketua Umum,” tukasnya. (Lingkar News Network | Koran Lingkar Jateng)

Exit mobile version