JEPARA, Lingkarjateng.id – Antusiasme ribuan warga memuncak di Pantai Kartini saat Festival Kupat Lepet menjadi puncak Pesta Lomban 2026, pada Sabtu, 28 Maret 2026. Dalam waktu singkat, dua gunungan yang berisi ribuan kupat dan lepet yang disiapkan panitia langsung ludes diserbu masyarakat.
Tradisi yang digelar usai prosesi larungan kepala kerbau ini selalu menjadi momen yang paling dinantikan. Begitu tali janur kuning dipotong oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Forkopimda, warga yang telah memadati lokasi sejak pagi langsung berhamburan menuju gunungan.
Hanya dalam kurun waktu sekitar 10 menit, seluruh isi gunungan habis diperebutkan. Bagi masyarakat, kupat dan lepet bukan sekadar makanan, melainkan simbol keberkahan dan rasa syukur. Warga berebut kupat dan lepet sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo (Mas Wiwit) menjelaskan bahwa, kupat dan lepet mempunyai makna filosofis, yaitu kupat dari kata ngaku lepat, artinya mengakui kesalahan. Sedangkan lepet melambangkan kebersamaan yang erat.
“Jadi setelah Idul Fitri, kita diajak untuk saling memaafkan, saling menguatkan, dan kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya didampingi Wabup M. Ibnu Hajar (Gus Hajar).
Larung Kepala Kerbau Warnai Puncak Tradisi Lomban Jepara, Antusias Warga Membludak
Ia mengatakan bahwa, tradisi ini merupakan wujud syukur masyarakat pesisir Jepara, khususnya para nelayan, atas rezeki yang diberikan dari laut.
“Dari laut, kita belajar tentang kerja keras tanpa kenal lelah, keberanian menghadapi tantangan, serta pentingnya kebersamaan,” ujarnya.
Pihaknya berharap Pesta Lomban, termasuk Festival Kupat Lepet, dapat semakin dikenal luas dan menjadi daya tarik wisata unggulan daerah.
“Kita ingin Pesta Lomban ini semakin ramai, semakin dikenal, dan tentunya membawa berkah bagi masyarakat Jepara,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu warga, Anton (40), senang bisa mendapatkan bagian dari gunungan tersebut. Ia bersama keluarganya telah bersiap sejak awal di barisan depan.
“Alhamdulillah dapat banyak. Tadi nunggu di depan, panas-panasan tapi akhirnya dapat juga. Nanti mau digantung di kendaraan,” katanya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Sekar































