MAKASSAR, Lingkarjateng.id – Dua orang pendaki Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menjadi saksi mata langsung detik-detik kecelakaan pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport pada Sabtu siang, 17 Januari 2025.
Dua pendaki muda tersebut, Reski (20) dan Muslimin (18), tengah menikmati pemandangan dari puncak Gunung Bulusaraung saat pesawat yang ATR 42-500 mengalami kecelakaan.
“Saya lihat pesawatnya dikikis itu gunung (Bulusaraung), lalu meledak dan terbakar,” kata Reski, Minggu, 18 Januari 2026.
Pesawat ATR 42-500 diketahui disewa untuk mendukung Tim Air Surveillance Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Saat kejadian, Reski dan Muslimin sedang berada di puncak Gunung Bulusaraung. Tanpa peringatan, sebuah pesawat melintas rendah di hadapan mereka.
“Sekitar jam 1 siang (13.00 WITA),” tuturnya.
Reski menceritakan bahwa dalam hitungan detik, pesawat itu menghantam lereng gunung.
Ledakan disertai api membuat Reski dan Muslimin terpaku ketakutan. Reski menyebut jarak mereka dengan lokasi ledakan hanya sekitar 100 meter.
“Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” ujar Reski, alumnus Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo.
Reski mengaku tidak sempat merekam kejadian secara utuh karena semuanya berlangsung sangat cepat.
“Cepat sekali (kejadiannya),” tuturnya.
Meski demikian, usai ledakan, keduanya menemukan sejumlah serpihan badan pesawat yang memuat logo Kementerian KP, serta beberapa dokumen yang ikut terhambur.
Penemuan itu sempat direkam Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal.
Dilanda rasa takut dan khawatir akan kondisi sekitar, Reski dan Muslimin akhirnya memutuskan turun gunung.
Mereka kembali ke wilayah Balocci dan tiba setelah salat ashar, namun membawa kabar duka dan serpihan pesawat ATR 42-500.
Serpihan itu kemudian diserahkan ke pihak berwenang di posko Bulusaraung.
Editor: Rosyid




























