BLORA, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora masih menunggu hasil kajian Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana terkait penanganan permanen tanah ambles di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan.
Sebelumnya, pihak BBWS Pemali Juana telah melakukan pengukuran lokasi terdampak untuk melakukan kajian mendalam dalam penerapan teknologi untuk penanganan fenomena tanah ambles.
Sementara untuk saat ini dilakukan pembukaan lahan diarea terdampak, dengan merapikan pohon bambu dan pohon-pohon yang ada di sekitar area.
“Sabtu kemarin BBWS sudah menerjunkan tim ukurnya, untuk mengambil langkah-langkah penanganan permanennya. Kolaborasi awal ini kita siapkan stripping lahannya,” terang Kepala Bidang (Kabid) SDA DPUPR Blora, Surat, Selasa, 13 Januari 2026.
Menurut Surat, dari upaya stripping lahan itu akan memudahkan tim inti dari BBWS Pemali Juana untuk melakukan kegiatan penanganan lungsuran tanah secara bertahap.
“Dan saat ini memang masih berproses dalam penyusunan desain penanganan,” jelas Surat.
Sementara dalam penyelesaian tahap awal ini, pihaknya masih menyesuaikan waktu. Namun pihaknya berharap dapat selesai dalam dua hari kedepan.
“Nanti akan disusul oleh tim inti, teman-teman BBWS Pemali Juana, sambil nanti menunggu desain jadi,” katanya.
Pengendalian Aliran dan Rembesan Jadi Fokus Penanganan Darurat Tanah Ambles di Blora
Pihaknya pun berharap cuaca kedepan bisa mendukung pengerjaan, sehingga minggu depan akan diturunkan tim inti BBWS Pemali Juana ke lokasi kejadian.
“(Penurunan tim inti) Untuk melakukan kegiatan penanganan darurat dan juga permanennya, dengan melakukan perkuatan tebing sungai,” terang Surat.
Terkait kendala lapangan, Surat mengungkapkan bahwa pergerakan tahan masih berlangsung ketika hujan turun, terlebih saat intensitas tinggi dalam waktu yang lama.
“Sebenarnya kemarin hari Sabtu juga sudah dilakukan pengurukan tertata rapi. Tapi ini sudah mengalami pengurangan kembali, karena tanah dasarnya jenuh,” terangnya.
Mengenai hal itu pihaknya mengambil langkah penangan dari bawah untuk meminimalisir tanah gerak atau ambles agar tidak semakin parah.
“Ini kami lakukan disisi bawah dulu, menggunakan turap bambu maupun kayu,” katanya.
Untuk analisa sementara, selain hujan dengan intensitas tinggi, salah satu faktor pergerakan tanah dipicu banyaknya lokasi-lokasi air permukaan yang tidak bisa terfokuskan secara baik ke sungai. Pasalnya, kata Surat, area terdampak belum memiliki saluran drainase yang mengakibatkan air merembes ke dalam tanah.
“(Di sini) baru jalan paving saja, tapi airnya masih dibiarkan meresap ke bawah. Jadi tidak ada alur sarana yang bisa memfokuskan dari saluran sampai ke sungai. Dari rembesan inilah kondisi tanah di bawah menjadi sangat jenuh,” terang Surat.
Di satu sisi, sambung Surat, di area bawah atau area yang berdekatan dengan sungai terdapat genangan air hujan yang tertahan. Hal inilah yang menjadi pemicu kondisi tanah di area bawah bertambah jenuh.
“Secara bertahap, kondisi tanah dibawah sudah jenuh. Artinya banyak yang tergerus, sehingga menciptakan pori-pori tanah menjadi lemah. Ini mengakibatkan tanah ini menjadi aktif,” terangnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar S






























