SEMARANG, Lingkarjateng.id – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengungkapkan tantangan terberat dalam mewujudkan ketahanan pangan di Ibu Kota Jawa Tengah.
“Kerja yang paling beratnya ya UMKM dikorelasikan dengan ketahanan pangan. Itu paling berat,” kata Agustin usai menghadiri Musrenbang RKPD 2026 di Hotel Gumaya, Kota Semarang, pada Senin, 30 Juni 2025.
Agustin menyebut Kota Semarang masih bergantung kepada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan, seperti beras dan bahan pokok lainnya.
“Karena kita kalau mau push produksi sendiri, paling akeh (banyak) 11 persen dan itu beras saja ya. Lauk-lauk yang lainnya kayak daging, ayam itu lebih kecil lagi 6 sampai 8 persen,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Agustin, Pemerintah Kota Semarang masih mengkaji upaya-upaya mengkolaborasikan UMKM dengan program ketahanan pangan.
“Nah, bagaimana caranya industri kecil, menengah, dan kreatif ini kemudian mengkolaborasi untuk proses ketahanan pangan dan itu PR, tapi kalau bisa berhasil, senang kita,” tuturnya.
Dia menyebut pemerintah pusat sudah menginstruksikan kepada kepala daerah untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dalam rangka peningkatan ketahanan pangan pada tiap kecamatan.
“Ada perintah dari Pak Menko waktu itu kita untuk segera melakukan dinamisasi kegiatan di tiap-tiap kecamatan itu harus terjadi lagi misalnya bazar, kita intervensi dasar, supaya orang membeli di situ,” ujarnya.
Terkait kegiatan bazar, menurut Agustin, juga perlu digarap dengan konsep yang baik dan matang sehingga dapat mendatangkan konsumen, dan menjadikan perputaran ekonomi pada masyarakat sekitar.
“Nah, tapi pelaksanaannya tidak harus seperti itu, yang dulu itu harus dievaluasi. Kita lebih pada membuat ramai supaya orang datang. Dan masyarakat sekitar yang ada di situ yang berjualan,” ujarnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa






























