PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Rangkaian Festival Batik Tiga Kota resmi ditutup di Kota Pekalongan bersamaan dengan penutupan Pekan Batik Nusantara (PBN) 2025 di Kawasan Budaya Jetayu, Senin, 1 Desember 2025 malam.
Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan para pengrajin, UMKM, dan seluruh kolaborator dalam agenda tersebut.
“Alhamdulillah, acara selama lima hari berjalan lancar. Semoga semakin menggairahkan roda perekonomian batik di Kota Pekalongan,” ujarnya.
Festival Batik Tiga Kota merupakan kolaborasi besar antara Malang, Magelang, dan Pekalongan. Program ini diluncurkan pada 2 Oktober 2025 di Smesco Jakarta dalam rangka Hari Batik Nasional. Pelaksanaan festival berlangsung berurutan di tiga kota: Malang (16–19 Oktober), Magelang (22–26 Oktober), dan Pekalongan (27 November–1 Desember).
Menurut Balgis, gelaran ini melibatkan sekitar 15 ribu pelaku UMKM dan pengusaha batik dari berbagai daerah. Ia mencatat, total pengunjung mencapai sekitar 32 ribu orang.
“Antusias masyarakat luar biasa. Rata-rata 6.000 pengunjung per hari. Semoga membawa berkah bagi Pekalongan,” tuturnya.
Festival ini juga terintegrasi dengan Festival Kopdes Merah Putih 2025, yang di Pekalongan menghadirkan 20 Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP). Pembukaannya dilakukan Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop RI.
Plt Kepala Dindagkop-UKM Kota Pekalongan, Supriono, menyebut kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat ekonomi kreatif lokal.
“Pekan Batik Nusantara menjadi ajang promosi produk, peningkatan kapasitas, sekaligus membuka peluang pasar baru,” ujarnya.
Tercatat 110 stan mengikuti pameran, menghadirkan produk batik, fesyen, aksesori, hingga kerajinan rumah tangga. Partisipasi datang dari berbagai kabupaten/kota seperti Kutai Timur, Bojonegoro, Cilacap, Batang, Sukoharjo, Demak, hingga kota-kota produsen batik seperti Malang, Magelang, dan Salatiga. Dukungan juga hadir dari sejumlah BUMN, BUMD, dan perbankan.
Selain pameran, berbagai kegiatan kreatif turut digelar: Workshop AI for Batik, lomba fesyen batik anak, lomba mewarnai motif batik, hingga gelar seni budaya. Ribuan pelajar setiap pagi menghadiri sesi edukatif, sementara masyarakat umum memadati venue pada sore hingga malam.
Selama lima hari, total omzet peserta mencapai Rp1,65 miliar. Kementerian Koperasi RI juga menyediakan doorprize elektronik untuk pengunjung yang berbelanja minimal Rp100 ribu, sehingga suasana acara semakin meriah.
Supriono menutup laporan dengan apresiasi kepada seluruh pihak pendukung.
“Semoga ini menjadi evaluasi berharga untuk penyelenggaraan yang lebih besar di tahun mendatang,” tegasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa






























