KUDUS, Lingkarjateng.id – Pemilik kios di kawasan pedagang kaki lima (PKL) Colo, Kabupaten Kudus menginginkan penataan ulang area tersebut mengacu pada wacana awal.
Ketua Paguyuban Pemilik Kios dan Warung Terminal Colo, Abdul Rohman, berharap pemerintah kembali menghidupkan wacana lama, yaitu perluasan area parkir bus yang disebutnya dapat menarik ulang arus wisatawan.
“Kalau parkir bisa menampung lebih dari 50 bus, Colo pasti hidup lagi,” ucapnya.
Sedangkan langkah pemerintah saat ini yakni dengan membangun kios baru untuk menata ulang keberadaan kios-kios pedagang.
Abdul Rohman pun mengaku kaget dengan pembangunan kios baru karena merasa belum pernah mendapat sosialisasi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menata ulang kawasan pedagang kaki lima (PKL) Terminal Colo setelah bertahun-tahun terbengkalai dan ditinggalkan sebagian besar pedagang.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Agus Susanto, mengatakan penataan ulang kawasan PKL Terminal Colo mendapat anggaran Rp1,03 miliar dengan skema revitalisasi dan pengembangan jalur wisata yang lebih terarah.
Rehabilitasi terhadap 20 kios di area PKL terminal Colo sejak 13 Oktober 2025. Sedangkan per November 2025, progres pembangunan mencapai 28,47 persen, sedikit melampaui target rencana 26,87 persen.
“Ada deviasi positif 1,61 persen. Targetnya rampung 75 hari,” ujar Agus.
Agus menjelaskan upaya pembenahan PKL Colo bukan semata soal memperbaiki bangunan kios yang tampak mangkrak sejak lama.
Pemkab Kudus menilai persoalan terbesar PKL Colo terletak yakni tidak adanya alur kunjungan wisatawan yang diarahkan ke kawasan ekonomi warga.
Selama ini, arus wisatawan ke Colo cenderung langsung menuju area wisata utama tanpa bersinggungan dengan terminal PKL.
“Kami sedang mengevaluasi jalur kunjungan wisata. Pergerakan wisatawan harus melewati kawasan ekonomi warga agar pedagang kembali mendapat manfaat,” terangnya.
Menurutnya kondisi kawasan PKL Colo memang memprihatinkan. Sejak 2018, mayoritas pedagang meninggalkan bangunan berlantai tiga yang dibangun dengan anggaran Rp23 miliar tersebut.
Dari total 150 kios, kini hanya enam pedagang yang masih bertahan di lantai tiga. Lantai dua bahkan tak lagi dihuni satu pun pedagang.
Akses pengunjung yang tidak melewati area itu menjadi penyebab utama kawasan mati perlahan.
Keluhan pedagang soal minimnya sosialisasi pembangunan kios baru turut mencuat. Namun, Agus menegaskan bahwa pihaknya telah mengundang pedagang dua kali untuk berdiskusi.
“Mungkin yang merasa tidak tahu memang tidak hadir saat undangan. Komunikasi tetap kami buka,” tegasnya.
Meski kawasan lama mangkrak, pemerintah tetap membangun kios baru berukuran 3 x 2,75 meter di area depan terminal.
Sebanyak 70 kios sudah ditempati pedagang, dan kini 20 kios tambahan sedang dikerjakan.
Dia menyebut langkah ini menjadi strategi penyelamatan ekonomi pedagang agar tidak sepenuhnya terputus dari aktivitas wisata.
Pemerintah menilai konsep transit wisata dan penataan jalur kunjungan dapat menjadi kunci kebangkitan PKL Colo.
“Potensinya masih ada. Colo pernah ramai dan bisa ramai kembali jika konsepnya tepat,” sambungnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Ulfa






























