Komunitas Mafindo Semarang Gelar Cek Fakta Tangkal Hoaks

PELATIHAN: Sejumlah jurnalis foto bersama usai mengikuti pelatihan cek fakta di Hotel Novotel Semarang, belum lama ini. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

PELATIHAN: Sejumlah jurnalis foto bersama usai mengikuti pelatihan cek fakta di Hotel Novotel Semarang, belum lama ini. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id – Kegiatan edukasi literasi berita dan literasi informasi periksa fakta, terus digaungkan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) untuk menangkal hoaks yang saat ini meresahkan masyarakat.

Berlokasi di Hotel Novotel Semarang, gelaran periksa fakta tangkal hoaks diikuti sebanyak puluhan jurnalis. Salah satu narasumber, Dedy Helsyanto mengatakan, kegiatan tangkal hoaks ditargetkan pesertanya adalah para jurnalis. 

Dirinya menerangkan, kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung kawan-kawan wartawan atau jurnalis yang sebelumnya mungkin belum pernah mendapatkan pelatihan periksa fakta. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menjadi bekal untuk para jurnalis dalam meningkatkan produksi artikel periksa fakta pada medianya.

“Dalam kegiatan ini, kami memberikan informasi mengenai teknik periksa fakta, mulai dari memeriksa hoaks yang disebarkan oleh situs atau website tertentu, hoaks dalam bentuk narasi, foto, video, lokasi hingga mencari keaslian akun dan unggahan di media sosial,” ujar Dedy.

Kurangi Sampah Plastik, Aktivis Semarang Gencarkan Plogging

Selain pada materi periksa fakta, Dedy juga menyinggung bahwa kepercayaan masyarakat terhadap media di Indonesia, berdasarkan data dari Edelman Trust Barometer Global Report 2022 berada di posisi yang tinggi.

Namun kepercayaan tersebut, lanjut Dedy, perlu terus didukung dengan meningkatkan juga kualitas dari media dan jurnalis, misalnya melalui disiplin dengan pedoman pemberitaan media siber dan kode etik jurnalistik.

“Teman-teman media dan jurnalis dapat lebih serius melalui langkah-langkah yang terstruktur dan terukur, untuk meningkatkan kualitasnya melalui penerapan etika dan peraturan secara komitmen dan konsisten. Jika tidak, ada kemungkinan kepercayaan publik bisa merosot dan ini bertentangan dengan kegiatan periksa fakta yang diusung oleh kawan-kawan media dan jurnalis,” katanya.

Sementara Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Kota Semarang, Aris Mulyawan menyampaikan, materi literasi berita di hadapan para jurnalis juga mengajak untuk mengingatkan kepercayaan khalayak dan publik terhadap berita yang dibuat oleh para jurnalis.

Hendi Sebut Disdik Semarang Keliru Gabungkan Beasiswa Prestasi dan Kemiskinan

Alasannya, tambah Aris, karena artikel berita yang dibuat oleh para jurnalis dan diterbitkan media masih menjadi rujukan dalam mencari informasi dan mengklarifikasi hoaks atau kabar bohong.

“Untuk mendukung ini, UU pers dan kode etik jurnalistik menjadi lentera kita dalam bekerja,” kata Aris.

Melalui artikel-artikel berita yang diproduksi oleh para jurnalis tersebut, lebih jauh Aris berharap, para warganet atau pengguna media sosial yang tadinya belum paham bagaimana berita diproduksi dan kepercayaan dari suatu berita mesti dipertanggungjawabkan, dapat dimengerti secara teknis dan substansinya oleh pembaca.

Perwakilan relawan Mafindo Semarang, Nani Hidayati menjelaskan, seputar Mafindo dan sepak terjang Mafindo Semarang dalam berbagai kegiatan edukasi dan advokasi, mengajak para peserta untuk bergabung dengan Mafindo. Ini sebagai bentuk kolaborasi antara para jurnalis dengan pembacanya atau masyarakat di Semarang.

“Kegiatan literasi adalah kegiatan keberlanjutan yang mesti dikerjakan dengan gotong royong. Kegiatan ini adalah awal yang akan mendorong kegiatan-kegiatan edukasi literasi lainnya, yang akan melibatkan lebih banyak pihak lagi di Semarang,” kata Nani. (Lingkar Network | Adimungkas – Koran Lingkar)