Kepala SLB di Semarang Keluhkan Kekurangan Tenaga Pendidik

Kepala SLB di Semarang Keluhkan Kekurangan Tenaga Pendidik

POTRET: Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Semarang, Sri Sugiarti. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id Nasib Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Semarang cukup memprihatinkan. Pasalnya, lembaga pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khusus itu kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Bahkan, jumlah tenaga pendidiknya terus berkurang setiap tahunnya.

Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Semarang Sri Sugiarti mengatakan bahwa, tenaga pendidik di tempatnya terus berkurang.

Awalnya, pihaknya memiliki tenaga pendidik sebanyak 600 orang. Namun, kini turun drastis menjadi 110 tenaga pendidik.

“Kurangnya SDM menjadi kendala bagi kami. Namun, kami tetap berusaha untuk memberdayakan anak-anak dalam memberikan pelayanan,” ungkapnya pada Kamis, 24 November 2011.

Ia mengungkapkan bahwa, banyak kendala yang dihadapi selama mendidik anak berkebutuhan khusus.

Hal ini karena harus menghadapi anak yang memiliki hambatan penglihatan, pendengaran, berfikir, fisik, hingga perilaku sosial. 

“Banyak anak, namun keterbatasan guru dan ruang kelas,” keluhnya. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang, Tugimin.  

Ia mengeluhkan kurangnya tenaga pendidik di sekolahnya. Awalnya, pihaknya ada 178 tenaga pendidik, namun saat ini tersisa 39 tenaga pendidik. 

Ia menyebut, perhatian pemerintah hanya pada anak SLB saja. Namun, perhatian pemerintah untuk para tenaga pendidik SLB kurang.

Menurutnya, tenaga pendidik juga harus diperhatikan, mengingat, tenaga pendidik sebagai ujung tombak bagi anak didik untuk menempuh pendidikan. (Lingkar Network | Adimungkas – Koran Lingkar)