SALATIGA, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Salatiga memastikan tidak terjadi lonjakan kasus penyakit selama periode libur lebaran 2026. Meski mobilitas masyarakat meningkat saat arus mudik dan balik, kondisi kesehatan warga tetap terkendali.
Berdasarkan pemantauan Dinkes, jenis penyakit yang paling banyak ditemukan selama momen lebaran didominasi gangguan pencernaan seperti dispepsia dan diare. Selain itu, ditemukan gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Secara umum tidak ada peningkatan kasus penyakit yang signifikan. Kasus yang muncul masih dalam kategori wajar, didominasi gangguan pencernaan dan ISPA,” kata Kepala Dinkes Kota Salatiga Prasit Al Hakim, Jumat, 27 Maret 2026.
Untuk mengantisipasi potensi penyebaran penyakit menular selama arus mudik, Dinkes Salatiga telah melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat yang disampaikan lewat media sosial resmi serta fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, seluruh fasilitas layanan kesehatan mulai dari rumah sakit, puskesmas hingga klinik turut disiagakan. Kesiapan tersebut mencakup ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai, hingga dukungan logistik kesehatan lainnya.
Dinkes juga memastikan layanan kegawatdaruratan tetap optimal melalui Public Safety Center (PSC) 119 Salatiga Medical Emergency Services (SMES) yang siap memberikan respons cepat bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis darurat.
“Masyarakat yang mengalami kondisi darurat kesehatan saat perjalanan mudik dapat menghubungi PSC 119 atau mendatangi posko kesehatan terdekat,” jelasnya.
Prasit mengakui adanya kendala selama masa libur lebaran, terutama pada terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti klinik dan dokter praktik mandiri yang tidak seluruhnya beroperasi saat cuti bersama.
Meski demikian, pelayanan kesehatan di Salatiga tetap berjalan optimal. Rumah sakit milik pemerintah maupun swasta tetap membuka layanan poliklinik selama libur, guna memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses layanan kesehatan.
“Langkah ini juga dinilai efektif untuk mencegah lonjakan pasien setelah libur panjang, sekaligus menjamin kesinambungan pelayanan bagi pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan kontrol rutin,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa
































