SEMARANG, Lingkarjateng.id – Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengunjungi tempat pengungsian warga yang terdampak kebakaran Gunung Merbabu, yang ada di Balai Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada Minggu sore, 29 Oktober 2023.
Pada kesempatan tersebut Bupati Semarang itu tampak menghibur warga yang rata-rata terdiri dari lansia, anak-anak, dan wanita dengan bernyanyi bersama di pengungsian.
Tidak hanya itu, Ngesti Nugraha juga melakukan sejumlah tinjauan kelayakan fasilitas baik logistik dan lainnya di tempat pengungsian itu.
Pada kesempatan itu ia juga menegaskan bahwa, saat ini semua elemen fokus dengan penanganan para pengungsi di Balai Desa Batur, Kecamatan Getasan yang lokasinya bersebelahan dengan Desa Tajuk.
“Jadi saya harap semua elemen fokus untuk bersama-sama untuk fokus mengurus warga yang mengungsi, jadi para pengungsi ini harus diperhatikan,” sebutnya pada Minggu petang, 29 Oktober 2023.
Bupati pun menyatakan bahwa, saat ini total masih masih ada 500 warga yang masih berada di rumah mereka masing-masing.
“Jadi baik warga yang mengungsi dan warga yang ada di rumah mereka itu harus terjamin masalah makan dan air minum, dan dalam hal ini kami dalam satu hari ada sekitar 35 tangki yang selalu kita siapkan sejak kebakaran ini terjadi di Gunung Merbabu,” ujarnya.
Terkait dengan upaya pemadaman dari udara atau water bombing, Bupati Ngesti Nugraha telah berkoordinasi dengan BPDB Provinsi Jawa Tengah, BPBD dari Kabupaten Magelang, lalu Kabupaten Boyolali, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Diharapkan segera ada pemadaman dengan menggunakan water boming ini karena koordinasi sudah terus dilakukan, dan akan segera kita lakukan water bombing di area hutan yang terbakar di Gunung Merbabu ini. Namun selain itu, kita semua berharap juga agar segera turun hujan sehingga api di semua titik bisa padam,” bebernya.
Di sisi lain, dampak dari adanya kebakaran hutan di Gunung Merbabu itu juga mengganggu kondisi kesehatan warga yang berada di pemukiman sekitar Gunung Merbabu itu.
Hal itu terjadi utamanya pada kondisi kesehatan warga dari Dusun Ngaduman dan Dusun Gedong di Desa Tajuk yang mengungsi di Balai Desa Batur sudah berangsur membaik. Pasalnya awal dievakuasi, banyak yang mengalami gangguan pernafasan.
“Asap tebal membuat saya dan anak saya sesak nafas, muntah-muntah dan pusing. Sehingga kami memutuskan untuk ikut mengungsi,” sebut salah satu warga yang mengungsi dari Dusun Gedong, Desa Tajuk, Kabupaten Semarang, Aprilia.
Ia mengaku awal titik api berada di arah timur Dusun Gedong, kemudian ia juga melihat api mulai merambat naik ke arah barat.
“Jadinya dusun kami dikepung api dari hutan. Yang menyebabkan asap dan abu dampak kebakaran masuk ke wilayah Dusun Gedong dimana dusun kami tinggal,” terangnya.
Sementara itu, Camat Getasan, Slamet Widodo mengungkapkan mulai dari hari pertama warga mengungsi, pihaknya sudah menyiapkan tenaga kesehatan dari beberapa puskesmas, serta sudah terdapat pembagian tenaga kesehatan sebanyak tiga shift.
“Jadi langsung ditangani ketika warga ada keluhan, dan jika tidak bisa ditangani kita akan rujuk ke rumah sakit atau puskesmas terdekat,” imbuhnya.
Dikatakannya, terdapat satu warga yang dirujuk ke rumah sakit terdekat karena mengalami gangguan pernafasan. Dan di Balai Desa Batur sendiri, sebutnya juga juga sudah dipersiapkan oksigen dan masker untuk warga yang mengungsi.
“Jadi di sini balai pengungsian sementara sudah disiapkan oksigen dan masker, hal ini untuk menjaga kesehatan warga agar tetap terjaga. Dan oksigen ini juga dipersiapkan untuk relawan yang bertugas memadamkan api di Gunung Merbabu,” pungkasnya. (Lingkar Network | Hesty Imaniar – Lingkarjateng.id)






























