BATANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wakil Bupati (Wabup) Batang, Suyono, selaku Ketua Pengawas Program MBG mengungkapkan pihaknya kerap menerima berbagai keluhan masyarakat terkait kualitas menu makanan yang diberikan kepada siswa.
Keluhan tersebut banyak disampaikan orang tua siswa melalui media sosial dengan mengunggah foto menu yang dinilai tidak sesuai harapan. Menurut Suyono, berbagai unggahan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah.
Dalam rapat koordinasi bersama yayasan dan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aula Bupati Batang, Kamis, 5 Maret 2026, ia secara terbuka menampilkan beberapa contoh menu yang dikeluhkan masyarakat.
Suyono menegaskan bahwa seluruh mitra wajib mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, termasuk terkait nilai gizi dan anggaran makanan.
“Sudah ada keuntungan, jangan mengurangi nilai. Yang Rp8 ribu ya Rp8 ribu. Jika SOP tidak dijalankan dengan disiplin, niat mulia pemerintah bisa tercoreng di mata publik,” katanya.
Ia menekankan program pemberian makanan bergizi seharusnya dijalankan secara konsisten dan jujur, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
“Kadang-kadang memenuhi, kadang-kadang enggak. Maka saya tekankan tadi itu harus sesuai SOP menjadi budaya, sehingga tidak merugikan penerima manfaat, bahkan tidak menjadi kritikan. Karena kalau kritik terus-menerus, kebijakan ini seakan-akan menjadi kebijakan yang tidak mulia,” tegasnya.
Menurut Suyono, Pemkab Batang juga menyiapkan langkah tegas bagi penyedia layanan yang tidak mematuhi aturan. Jika pelanggaran terus terjadi meski sudah diingatkan, kerja sama dengan penyedia dapat dihentikan.
“Jika tidak sesuai dan terus-menerus diingatkan tidak mau, MBG itu bisa kita tutup, kita rekomendasikan untuk ditutup,” jelasnya.
Sanksi yang disiapkan bertahap mulai dari teguran lisan, teguran tertulis, hingga penghentian operasional SPPG.
Di sisi lain, ia mengakui pelaksanaan program MBG di Kabupaten Batang belum sepenuhnya merata. Dari kebutuhan sekitar 110 unit layanan, saat ini baru tersedia 61 unit yang beroperasi.
Wilayah terpencil masih menjadi tantangan dalam distribusi program tersebut.
“Daerah-daerah yang masuk kategori Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T) atau wilayah terpencil masih menjadi tantangan utama yang belum tersentuh sepenuhnya. Di antaranya daerah 3T yang terpencil itu belum. Kalau daerah Kecamatan Bawang kan ya sudah ada, tapi belum semua, belum rata istilahnya,” ujar dia.
Suyono juga mengingatkan para mitra untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku dari produk lokal, kecuali susu, guna mendukung perekonomian masyarakat sekitar.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat menyadari bahwa kualitas makanan yang disajikan kepada siswa akan berdampak langsung pada masa depan generasi muda di Kabupaten Batang.
Sumber: Humas Pemkab Batang
Editor: Rosyid































