PATI, LINGKAR JATENG – Bencana banjir di Kabupaten Pati semakin meluas. Hingga Sabtu (17/1/2026), banjir merendam 136 desa yang tersebar di 12 kecamatan, dengan total sekitar 78.000 rumah warga terdampak genangan air.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto meninjau langsung posko pengungsian dan dapur umum di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati, Sabtu siang. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak banjir berjalan optimal.
“Pertama, memastikan kebutuhan masyarakat di pengungsian ini betul-betul diperhatikan,” kata Suharyanto di sela kunjungan.
Suharyanto menyampaikan, pemerintah pusat telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Tengah untuk menekan intensitas hujan. Operasi tersebut didukung dua unit pesawat milik BNPB dan satu unit pesawat dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, modifikasi cuaca bertujuan mengurangi curah hujan, bukan menghentikan hujan sepenuhnya.
“Jika semula ekstrem atau hujan lebat, ini jadi sedang atau lebat,” ujarnya.
Selain penanganan darurat, BNPB juga memastikan usulan perbaikan infrastruktur permanen yang diajukan Pemerintah Kabupaten Pati akan segera ditindaklanjuti sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
Bupati Pati Sudewo mengatakan, berdasarkan data per 16 Januari 2026 sore, banjir telah berdampak luas dan menyebabkan dua orang warga meninggal dunia. Pemerintah daerah saat ini terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, mulai dari logistik pangan hingga penyediaan tempat pengungsian.
Di sisi lain, Kepala Desa Sidoharjo Hariyanto mengungkapkan dapur umum di desanya telah beroperasi sejak 15 Januari 2026 dengan memproduksi sekitar 2.000 bungkus nasi setiap hari. Meski bantuan 20 paket logistik dari BNPB telah diterima dan stok bahan pangan dinilai aman hingga 20 Januari, ketersediaan logistik untuk hari-hari berikutnya masih menjadi kekhawatiran. Keterbatasan tenaga juga mulai dirasakan karena aktivitas memasak dalam jumlah besar dilakukan setiap hari.
“Harapannya bencana ini segera berlalu dan banjir segera surut, supaya warga bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala,” kata Hariyanto.
Hingga kini, ribuan warga masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu kondisi cuaca membaik dan air banjir yang merendam permukiman mereka sejak sepekan terakhir surut sepenuhnya. (Mutia/Red)






























