Semarang (lingkarjateng.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah, mencatat jumlah kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jawa Tengah mengalami peningkatan hingga 10 persen.
Kenaikan tersebut karena dipengaruhi kemarau panjang dari siklus gelombang panas El Nino selama dua bulan terakhir. Meski begitu, lonjakan tersebut disebut belum sampai pada level KLB (kejadian luar biasa).
“Peningkatan ISPA 10 persen terjadi sejak Agustus sampai sekarang, namun kondisi itu belum KLB. Pengaruhnya pola perubahan cuaca saat ini yakni terjadinya kemarau ekstrem. Untuk grafiknya masih wajar,” ujar Zulfachmi, Kepala Dinkes Jateng, Kamis (8/10).
Zulfachmi mengatakan terdapat dua jenis sebaran penyakit ISPA yakni Influenza tipe A dan tipe B. Saat ditanya penyebab banyaknya kasus ISPA karena berbanding lurus dengan jumlah populasi penduduk Jawa Tengah yang juga tinggi.
“Kami mendeteksi kenaikan penderita ISPA mulai terjadi Agustus lalu memasuki September sampai awal Oktober 2026. Kemarau ekstrem yang ditandai dengan peningkatan suhu panas, memang cenderung membuat paparan debu lebih banyak di luar ruangan,” bebernya.
Selain karena musim kemarau atau cuaca panas, pihaknya mengatakan penderita ISPA juga tidak sedikit yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat ini banyak korban yang banyak dirawat di rumah sakit.
“Sebenarnya karena ada kebakaran hutan kan menambah polusi di luar rumah. Ini juga dipengaruhi faktor eksternal yaitu perubahan cuaca yang mana siklus El Nino menjadi sangat panjang,” sebutnya.
Dinkes Jateng mencatat penderita ISPA paling banyak ditemukan di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Temuan ISPA tertinggi ada di Kota Semarang, Kota Solo dan Kabupaten Banyumas.
“Wilayah paling banyak terpapar ISPA di Semarang Solo, Banyumas atau kota lain dengan penduduk yang padat,” jelasnya.
Selain itu, penderita ISPA rata-rata didominasi anak sekolah mulai SD, SMP dan SMA yang cenderung sering beraktivitas di luar rumah. Namun ada juga penderita ISPA dari kalangan orang dewasa yang beraktivitas luar gedung. (Lingkar Network/Rizky)***
Editor : Adi Arfian































