KABUPATEN SEMARANG, Lingkarjateng.id – Akibat dilanda hujan deras semalaman pada Rabu, 25 Maret 2026 dua desa di dua kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang mengalami banjir.
Hingga Kamis, 26 Maret 2026 pagi banjir terpantau melanda Dusun Rowoganjar, Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru dan Desa Rowosari Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi membuat aliran air tidak berjalan maksimal. Debit air tinggi membuat air akhirnya menggenang.
“Karena debit air tinggi, tidak hanya mengandalkan aliran ke sungai saja, tapi kami juga sudah berkoordinasi dengan BBWS dan penjaga pintu air untuk tindak lanjut penanganan lainnya,” ungkap Alex, Kamis, 26 Maret 2026.
Banjir turut merendam empat rumah warga serta jalan desa dengan ketinggian ari mencapai sekitar 30 sentimeter.
BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat ini, proses penanganan masih terus dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah desa, BBWS, serta penjaga pintu air di Sungai Tuntang sebagai salah satu solusi untuk mengurangi genangan di wilayah tersebut.
Sementara itu Kasi Pelayanan Desa Rowosari, Mahmudi, mengatakan banjir di desanya dipicu curah hujan tinggi serta wilayahnya yang memang rawan banjir khususnya jika Danau Rawa Pening meluap.
“Tapi memang untuk ketinggian banjir ini tidak menentu, bahkan sebelumnya tidak setinggi ini, kali ini tinggi sekali, kira-kira tinggi banjir sekarang itu mencapai 40 centimeter, dan tahun lalu tidak setinggi ini,” bebernya.
Menurutnya ketinggian air banjir salah satunya dipicu karena penutupan saluran air danau Rawa Pening sehingga air menggenangi permukiman warga hingga lahan persawahan sekitar 80 hektare.
“Selain itu banjir juga menyebabkan kolam-kolam ikan air tawar milik warga rusak terkena banjir, sehingga banjir kali ini juga banyak warga yang merugi khususnya pemilik kolam-kolam ikan hingga ratusan juta,” terangnya.
Akibat banjir itu, total juga ada delapan rumah warga yang terendam bahkan air banjir masuk ke dalam rumah. Sisanya, banjir hanya sampai di pekarangan rumah-rumah warga lainnya.
“Tapi ada juga lahan sawah yang totalnya sampai 80 Ha dari total luasan keseluruhannya ada di angka 125 Ha ini juga terdampak banjir, dan ditambah lagi kolam-kolam ikan yang juga terdampak banjir ini, jadi harapan kami ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi banjir di desa ini,” harapnya.
Banjir juga berpotensi membuat petani gagal panen. Menurutnya banjir di Desa Rowosari baru surut ketika kemarau panjang.
“Banjir di Desa Rowosari itu surutnya kalau musim kemarau panjang baru surut, tapi kalau masih hujan begini ya banjirnya belum akan surut-surut,” tukasnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Ulfa
































