KENDAL, Lingkarjateng.id – Sejumlah petani di Kabupaten Kendal mengeluhkan turunnya harga bawang merah secara drastis menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kondisi ini membuat para petani tidak dapat merasakan suasana Lebaran dengan penuh kegembiraan.
Penurunan harga terjadi di tingkat petani dan dinilai jauh dari harga normal. Dampaknya, pendapatan hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam.
Di sejumlah sentra produksi, nilai hasil panen dari satu siring lahan yang biasanya mencapai Rp30 juta kini hanya dihargai sekitar Rp12 juta. Penurunan harga ini terjadi merata di berbagai wilayah, termasuk di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum.
Salah satu petani, Suwanto (56), mengaku kondisi tersebut sangat memberatkan. Ia menyebut biaya produksi seperti pupuk, obat-obatan, hingga tenaga kerja tidak mengalami penurunan.
“Biasanya satu siring bisa sampai Rp30 juta, sekarang hanya Rp12 juta. Jelas merugi. Biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja tetap tinggi,” ujarnya, Selasa, 24 Maret 2026.
Menurut Suwanto, anjloknya harga bawang merah dipicu oleh panen raya yang terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Kondisi itu menyebabkan pasokan melimpah di pasaran sehingga harga jual ikut turun tajam.
Untuk mengurangi kerugian, petani memilih menjual sebagian hasil panen dan menyimpan sisanya sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya.
“Kami jual sebagian saja untuk kebutuhan, sisanya kami bawa pulang untuk bibit. Kalau semua dijual, nanti malah harus beli lagi,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan petani lainnya, Muqodim (58), yang juga terdampak penurunan harga bawang merah di wilayah tersebut.
“Kondisinya sama, harga turun jauh. Mau tidak mau kami juga harus jual sebagian, sisanya disimpan untuk bibit,” kata Muqodim.
Para petani berharap adanya intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga bawang merah serta membantu menekan biaya produksi. Mereka juga meminta perhatian serius agar kerugian yang dialami petani tidak terus berulang, terutama pada momen penting seperti Lebaran.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid

































