Blora (lingkarjateng.id) – Kemarau panjang tahun 2026 membuat perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Blora, dilema dan harus bekerja ekstra pada proses produksi.
Pasalnya air untuk mengolah tanah sulit didapat, namun panas matahari justru membantu mempercepat proses pengeringan batu bata merah.
Salah seorang perajin batu bata merah di Sendangmulyo, Sarmidi (63), mengatakan kebutuhan air untuk produksi cukup besar disaat musim kemarau.
Saat ini, ia bersama istrinya harus mengambil air dari sumur sendang yang berjarak hampir 2 kilometer dari lokasi produksi.
Air tersebut digunakan untuk mengolah tanah sebelum dicetak menjadi batu bata. Mereka mengambilnya menggunakan sepeda motor dengan membawa tiga jeriken.
“Kalau musim kemarau memang air sulit. Tapi untuk pengeringan batu bata lebih cepat,” ujar Sarmidi, Rabu (07/10/2026).
Menurutnya, tanah menjadi lebih keras saat kemarau sehingga membutuhkan cukup air agar dapat diolah dan dicetak. Meski begitu, ia masih mampu memproduksi sekitar 700 batu bata per hari.

Di sisi lain, terik matahari menjadi keuntungan tersendiri bagi perajin. Batu bata yang sudah dicetak bisa lebih cepat kering sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk ke proses berikutnya.
“Kalau panas seperti ini cepat kering. Jadi setelah dicetak, tidak terlalu lama menunggu untuk proses berikutnya,” ujarnya.
Dalam sekali pembakaran, Sarmidi bisa menghasilkan sekitar 13 ribu batu bata merah. Hasil produksinya kemudian langsung diambil toko bangunan maupun pengepul.
Ditambahkan, kemarau menjadi kondisi yang serba berlawanan. Air menjadi kendala untuk produksi. Namun panas matahari justru membantu mempercepat pengeringan batu bata.
“Produksi pun tetap berjalan meski harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memenuhi kebutuhan air,” katanya.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Adi Arfian
































