SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ratusan massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, Selasa, 4 November 2025.
Massa yang datang menggunakan satu bus dan beberapa kendaraan pribadi terdiri dari aktivis serta warga sipil asal Kabupaten Pati. Mereka menuntut kepolisian segera membebaskan dua aktivis AMPB, Teguh dan Supriyono alias Botok, yang saat ini masih ditahan di Polda Jateng.
Koordinator aksi, Suharno, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk solidaritas dan keprihatinan masyarakat Pati atas penahanan dua rekan mereka.
“Kami bukan kriminal. Kami hanya menyuarakan aspirasi rakyat Pati yang kecewa terhadap kebijakan bupati. Penangkapan Mas Teguh dan Mas Botok adalah bentuk ketidakadilan,” ujar Suharno kepada wartawan di lokasi.
Dalam aksinya, massa membawa berbagai poster dan spanduk bertuliskan tuntutan seperti “Bebaskan Tahanan Aksi Pati” dan “Bupati Pati Harus Tanggung Jawab.”
“Penangkapan dua pejuang dari Pati adalah ancaman bagi siapa pun yang berani bersuara kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Aksi berlangsung tertib meski diwarnai orasi keras dan yel-yel. Pihak kepolisian sempat mengizinkan keluarga Teguh dan Botok untuk mengantre menjenguk keduanya di ruang tahanan, sementara massa lain menunggu di luar gerbang Mapolda sebagai bentuk solidaritas.
Suharno menegaskan, massa akan terus mengawal proses hukum hingga kedua aktivis dibebaskan.
“Kami tidak akan berhenti. Kalau perlu kami lanjutkan perjuangan ini sampai ke Jakarta,” katanya menegaskan.
Ia menambahkan, penahanan Teguh dan Botok dinilai tidak adil dan melukai semangat perjuangan warga Pati.
“Kami merasa tidak adil, karena kami bukan kriminal. Kami hanya menyampaikan pendapat rakyat Pati yang kecewa dengan kebijakan Bupati. Dari situlah muncul berbagai aksi spontan, termasuk pemblokiran Pantura kemarin sebagai bentuk kekecewaan terhadap hasil hak angket,” jelas Suharno.
Meski demikian, Suharno menegaskan aksi-aksi yang terjadi selama ini murni dorongan hati nurani masyarakat, bukan hasil pengerahan massa terorganisir.
“Tidak ada koordinasi khusus. Semua murni gerakan spontan rakyat. Kami juga tidak takut, selama yang kami perjuangkan adalah kebenaran. Gerakan ini tidak akan mati, karena kami bergerak dengan hati dan hati itu perintah Tuhan,” tandasnya.
Hal senada disampaikan Mulyati, kakak Botok, yang meminta kepolisian membebaskan adiknya yang kini mendekam di penjara.
Sebagaimana diberitakan, Teguh dan Botok ditahan polisi karena diduga melakukan blokir jalan Pantura sebagai bentuk protes atas batalnya hak angket DPRD Pati terhadap Bupati Sudewo.
Jurnalis: Lingkar Network































