Temuan Kasus HIV/AIDS Tahun 2021 di Kudus Menurun

SEMINAR HIV AIDS

ANTUSIAS: Peserta menyimak paparan dalam seminar memperingati Hari AIDS sedunia di Hotel @Hom Kudus, kemarin. (Istimewa / Lingkarjateng.id)

KUDUS, Lingkarjateng.id – Jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kudus selama tahun 2021 tercatat 102 kasus. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 116 kasus.

“Temuan kasus tahun ini sebanyak 102 kasus, merupakan periode Januari-Oktober 2021, sedangkan pada periode yang sama tahun 2020 jumlahnya lebih tinggi, yakni 116 kasus. Hal ini disebabkan adanya pandemi COVID-19,” kata Koordinator Kelompok Dampingan Sebaya Kabupaten Kudus Eni Mardiyanti di Kudus, Jumat (26/11).

Ia mengakui selama masa pandemi intensitas skrining cenderung menurun dibandingkan sebelum masa pandemi, sehingga temuan kasus HIV/AIDS juga menurun. Kalaupun ada skrining hanya pada kelompok kecil yang berisiko tinggi tertular.

Pada saat yang sama, kata dia, banyak masyarakat yang tidak berani berobat ke rumah sakit karena khawatir tertular Covid-19, meskipun dari sekian masyarakat yang sakit bisa saja ada yang terpapar HIV. Karena pengalaman sebelumnya banyak temuan dari hasil skrining di tempat fasilitas kesehatan. Ia mengakui penderita HIV/AIDS lebih mudah terpapar berbagai penyakit, termasuk Covid-19 karena imunitasnya yang rendah.

Peringati Hari AIDS Sedunia, DKK Kudus Kampanyekan Pencegahan HIV

Temuan kasus HIV/AIDS tahun ini, kata dia, didominasi dari kelompok penyuka sesama jenis, urutan berikutnya dari pria yang suka berganti-ganti pasangan. Kemudian ibu rumah tangga, pekerja seks dan perinatal.

Sementara dari sisi kelompok umur, terbanyak dari kelompok usia antara 30-39 tahun tercatat 28 kasus, usia 50-59 tahun tercatat 25 kasus, kelompok usia 20-29 tercatat 18 kasus. Selebihnya kelompok usia di atas 60 tahun, dan usia 1-19 tahun.

Untuk mengetahui jumlah riil warga Kudus yang terpapar HIV/AIDS, perlu dilakukan skrining secara massal serta dukungan masyarakat untuk berbicara jujur atas kondisinya demi menghindari kemungkinan anggota keluarganya ikut tertular.

“Kasus yang terjadi selama ini, banyaknya ibu rumah tangga yang tertular karena dari perilaku suaminya yang bekerja di luar kota. Ketika pulang ke rumah membawa virus mematikan tersebut dan menularkannya kepada istri, bahkan anak balita juga banyak temuan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan kasus terbaru terdapat tiga balita yang terpapar HIV. Satu diantaranya meninggal dunia, satu balita mengalami gizi buruk dan satu dalam kondisi sehat.

Penyebaran virus mematikan tersebut, kata dia, salah satunya karena melakukan seks berisiko dan tidak setia terhadap pasangan nikah. Hal terpenting saat ini, upaya pemerintah untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit mematikan tersebut, karena selama ini belum dilakukan sosialisasi dan edukasi secara masif kepada masyarakat. (Lingkar Network | Koran Lingkar Jateng)