Semarang (lingkarjateng.id) – Menghadapi cuaca ekstrem, Kota Semarang kerap kali dilanda bencana hidrometeorologi, mulai dari angin kencang dan tanah longsor.
Kejadian tersebut seperti terjadi pada Rabu (4/3). Terdapat puluhan pohon tumbang yang hampir merata di seluruh kecamatan, beberapa menimbulkan kerugian materil.
Dinas terkait dan para relawan tampak kewalahan atas kondisi tersebut. Sehingga, pelatihan dan peningkatan jumlah relawan menjadi penting sebagai langkah pencegahan dan kesiap siagaan dalam menghadapi bencana.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, dari 177 kelurahan masih terdapat 40 kelurahan yang telah resmi mengikuti pelatihan Kelurahan Tangguh Bencana (KATANA).
Kepala BPBD Kota Semarang Endro P. Martanto mengatakan relawan dari masing-masing kelurahan di Kota Semarang diberikan pelatihan tanggap bencana, sehingga ketika ada bencana di wilayahnya, relawan Katana bisa langsung memberikan bantuan pertama.
“Itu dibekali tidak hanya pengetahuan tapi juga tata cara evakuasi menghadapi tanah longsor, ada kebakaran, gempa bumi dan banjir,” jelasnya.
Ia mengatakan karena pembentukan Katana membutuhkan anggaran untuk pelatihan dan pembekalan, maka pihaknya membentuk Katana secara bertahap sesuai dengan kedaruratan suatu wilayah.
“Karena terbentur anggaran juga jadi baru ada 40 Katana. Itu pelatihannya sampai 5 hari isinya pembekalan, pengetahuan dan pelatihan,” terangnya.
Setiap tahunnya, BPBD menargetkan pembentukan empat sampai lima Katana. “Pelatihan itu secara masif teranggarkan di Dipa dalam 1 tahun anggaran ada 4 pembentukan Katana tiap tahun,” tuturnya. ***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Fian































