Batang, LINGKAR – Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyoroti lambannya realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang atau Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah, yang dinilai masih jauh dari target awal.
Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke KITB pada Jumat (11/7/2025), menyatakan bahwa hingga saat ini capaian investasi di kawasan tersebut baru mencapai sekitar Rp 17 triliun dari target Rp 60 triliun selama lima tahun terakhir.
“Kami memberikan sejumlah catatan, seperti bagaimana KEK Batang mampu menghadapi tantangan terutama terkait isu lingkungan, penyerapan tenaga kerja, serta pencapaian target investasi,” ujar Erna.
Ia menambahkan, Komisi VII akan menunggu perkembangan selanjutnya dan berencana kembali mengevaluasi secara langsung progres kawasan tersebut. Menurutnya, KEK Industropolis Batang dibangun atas dasar sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN.
“Harapannya, kehadiran KEK ini bisa memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Batang,” katanya.
Erna menegaskan bahwa DPR mendukung penuh program-program strategis nasional, termasuk pengembangan kawasan ekonomi khusus, di tengah kondisi industri nasional yang sedang lesu.
“Namun, kami juga mendorong agar investor yang masuk ke KEK Batang dipilih secara selektif. Transformasi sosial masyarakat yang sebelumnya hidup dari berkebun harus diperhatikan, agar tidak menimbulkan persoalan sosial baru,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemudahan perizinan investasi. Meski pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 untuk menyederhanakan proses perizinan, pelaksanaannya di lapangan masih perlu dikawal.
“Kami menunggu implementasinya, karena regulasi bagus jika diikuti oleh eksekusi yang konkret,” tegas Erna.
Sementara itu, Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Batang, Ngurah Wirawan, menjelaskan bahwa KEK Industropolis Batang dibangun bukan hanya sebagai kawasan industri, melainkan sebagai ekosistem terintegrasi yang mampu memenuhi kebutuhan investor sekaligus berorientasi pada keberlanjutan.
“Setiap meter kawasan ini dirancang untuk mempercepat hilirisasi, meningkatkan efisiensi, dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” kata Ngurah.
Hingga Juni 2025, tercatat sudah ada 31 tenant yang bergabung di KEK Industropolis Batang, dengan total pengembangan kawasan mencapai 4.300 hektare.
“KEK Batang kami posisikan sebagai poros kemajuan nasional yang menjembatani ambisi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Jurnalis : ant/Fahri Akbar
Editor : Anas Makruf































