Politisi PDI Perjuangan, Dyah Ratna Harimurti Mengenal Dunia Politik sejak Belia

DYAH HARIMURTI

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti (Dok. Pribadi/Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id – Keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Seperti yang dialami oleh Dyah Ratna Harimurti, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang dari Fraksi PDI Perjuangan. Detty, sapaan akrabnya mengungkapkan, sang ayah memiliki peran besar dalam mengenalkan dunia politik kepadanya. Bahkan, ia sudah akrab dengan hal tersebut sejak usianya masih sangat belia.

Saat dirinya masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ia melihat sang ayah berkampanye lewat depan rumah. Namun saat itu ayahnya hanya sebagai simpatisan dari PDIP karena ibunya adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS).

Kemudian saat Detty duduk di bangku SMA, sang ayah juga mengajak dirinya menjemput Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri ketika berkunjung ke Semarang. Saat itu, mereka menyambangi Taman Makam Pahlawan.

Puncaknya saat ia menjadi seorang mahasiswi, Detty ikut serta dalam demo reformasi. Sejak saat, itu ia mulai belajar memahami situasi negara. Tak disangka berawal dari hal kecil, ia jatuh cinta pada dunia politik sampai sekarang.

Mengenal Heru Susilo, Menikmati Alur Mutasi Jabatan di Lingkup Pemkab Rembang

Awal kariernya dimulai ketika Detty masuk dalam partai PDIP pada tahun 1998. Setelahnya ia menjadi staf Fraksi PDIP Provinsi Jawa Tengah pada umur 22 tahun. Dalam jabatan itu, ia menjalani masa pengabdian selama 15 tahun.

“Saya nyaleg sudah 3 kali, baru jadi tahun 2014. Pertama tahun 2004, kemudian yang kedua tahun 2009, itu belum kepilih. Tahun 2014, Alhamdulillah dapat nomor urut 1, akhirnya jadi seperti sekarang. Ini sudah periode yang kedua,” jelasnya.

Lebih lanjut, Detty mengatakan, bukan tanpa alasan memilih mengabdi untuk masyarakat di Komisi D. Ia sangat menyukai hal-hal yang berkaitan langsung dengan masyarakat, terutama pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Sebab, dalam komisi tersebut membidangi kesejahteraan rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pemuda dan olahraga, sosial, dan ketenagakerjaan. Setiap masa reses digunakan untuk diskusi perempuan.

Mengenal Achmad Yusuf Roni, Aktif Suarakan Hak Penyandang Disabilitas di Kudus

“Dari beberapa perwakilan RW kita kumpulkan. Kita ngobrol banyak hal misal infrastruktur, KDRT, kesehatan. Mereka wajib mengisi kuesioner yang diberikan di tiap kelurahan. Misal terkait pendapat tentang infrastruktur apa sampai menemui KDRT gak di lingkunganmu,” jelasnya.

Melalui kegiatan itu, permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat kemudian disampaikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD). Menurutnya, ketika memperjuangkan aspirasi masyarakat dalam rapat komisi harus berdasarkan keadaan riil di lapangan.

Alhamdulillah yang jadi aspirasi masyarakat terutama kaum perempuan bisa diwujudkan. Anggota dewan kalau nggak sering turun ya nggak bisa ngomong. Mau memperjuangkan apa? Nggak tau aspirasi dari masyarakat. Menurut saya nyawanya anggota dewan itu aspirasi masyarakat,” ungkapnya.

Berada di daerah pilihan (dapil) II tentu tidaklah mudah. Sebab hampir saban musim penghujan Kecamatan Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari dilanda banjir. Namun, ada permasalahan yang membuatnya lebih khawatir yakni terkait karakter anak.

“Masyarakat di sana sangat heterogen. Banyak rusun di sana jadi sangat kompleks persoalannya. Tapi yang membuat prihatin saat ini tentang karakter anak. Dengan adanya pembelajaran daring kemarin menurut saya itu merusak karakter anak,” tuturnya. Menutup perbincangan, Detty berharap agar masyarakat Ibu Kota Jawa Tengah tetap memupuk rasa gotong royong. Dengan kebersamaan yang erat, bisa membawa Kota Atlas terus berkembang menjadi lebih baik. (Lingkar Network | Koran Lingkar Jateng)