10+ Rekomendasi Objek Wisata Religi di Semarang

POTRET: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). (Sumber Gambar: Instagram@saragih_erick/Lingkarjateng.id)

POTRET: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). (Sumber Gambar: Instagram@saragih_erick/Lingkarjateng.id)

Lingkarjateng.id Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Kota ini sarat akan akulturasi beragam budaya. Ditambah dengan kerukunan antar umat yang sudah tak perlu diragukan, wajar jika Kota Semarang menjadi salah satu kawasan dengan wisata religi terbaik yang dapat Anda kunjungi.

Berikut Lingkarjateng.id rangkum untuk Anda 10+ rekomendasi objek wisata religi di Semarang yang harus masuk list Anda.

1. Masjid Agung Jawa Tengah

Siapa yang tak kenal dengan masjid megah satu ini? Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dibangun pada tahun 2001 dan diresmikan pada 14 November 2006. Luas masjid ini mencapai 10.000 meter persegi dengan kapasitas menampung 6.000-10.000 jamaah.

MAJT terletak di Jalan Gajah Raya, Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Sejarah MAJT tak bisa dipisahkan dengan Masjid Agung Semarang/Masjid Kauman Semarang. Pasalnya, MAJT dibangun setelah kembalinya tanah wakaf milik Masjid Agung Semarang.

Keistimewaan MAJT dapat Anda lihat dari arsitekturnya, yang mana merupakan gaya Jawa Timur, gaya Jawa Tengah dan gaya arsitektur Yunani. Arsitek masjid ini bernama Ir. Haji Ahmad Fanani dengan mengusung filosofi perwujudan perkembangan Islam di Indonesia.

5 Wisata Religi Kendal yang Wajib Anda Kunjungi

2. Masjid Safinatun Najah Semarang

Pemilik masjid ini adalah Muhammad, seorang yang berasal dari Arab Saudi dan lama menetap di Pekalongan. Ia membangun masjid berbentuk kapal karena terinspirasi dari kisah Nabi Nuh AS dan bahtera penyelamatnya sehingga disebut sebagai Bahtera Nabi Nuh AS.

Masjid ini berlokasi di Jalan Kyai Padak RT 05/RW 05, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Menariknya, masjid ini diperbolehkan untuk pertemuan, hajatan atau resepsi pernikahan. Masjid yang dibangun pada tahun 2015 ini dibangun di atas tanah seluas 7,5 hektare dengan ukuran bangunan 2 hektare.

5 Rekomendasi Objek Wisata Religi di Jepara

3. Makam Ki Ageng Pandanaran

Jika Anda berkunjung ke Semarang, rasanya belum afdal jika tak mengenal pendiri kota ini. Ki Ageng Pandanaran merupakan Bupati Kota Semarang yang pertama. Lokasinya berada di Jalan Mugas, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Selain dikenal sebagai bupati, beliau juga merupakan tokoh penyebar agama Islam. Beliau meninggal pada tahun 1496.

4. Makam Kiai Sholeh Darat

Kiai Sholeh Darat atau yang dikenal dengan Mbah Sholeh Darat merupakan ulama yang dilahirkan di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada tahun 1820. Ayahnya, Kiai Umar merupakan pejuang dan tangan kanan Pangeran Diponegoro di Jawa bagian utara.

Mbah Sholeh Darat dikenal sebagai guru para ulama-ulama besar. Adapun ulama yang pernah berguru di antaranya pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan tokoh emansipasi wanita, R. A. Kartini.

Mbah Sholeh Darat juga terkenal dengan karya-karyanya seperti Majmu’at Syari’atal-Kafiyat al Awam, Minjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al Ghazali, terjemahan Al-Hikam karya Ahmad bin Athoilah, Lathaif al-Thaharah wa Asrorus Solah, Manasik al-Haj, Pasolatan, Sabillu ‘Abid, Minhaj al-Atqiya’, Faidh al-Rahman, Al-Mursyid al-Wajiz, Hadist al-Mi’raj dan Syarah Maulid al-Burdah. Meski ada 40 karya, namun hingga saat ini baru 12 judul saja yang ditemukan.

5 Rekomendasi Objek Wisata Religi di Rembang

5. Makam Syekh Kramat Jati

Syekh Kramat Jadi atau yang dikenal dengan nama Habib al-hasan bin Yahya lahir di Kota Inat (Hadramaut) dari pasangan Habib Thoha bin Yahya dengan Syarifah Asiyah binti Abdullah al-Idrus.

Makam Syekh Kramat Jati terletak di Lamper Kidul, Semarang Selatan, Kota Semarang. Tempat pertama yang disinggahi sewaktu tiba di Indonesia adalah Kota Palembang, kemudian ke Banten dan kota lain seperti Cirebon dan Kendal.

6. Makam Sunan Kuning (Soen An Ing)

Nama Sunan Kuning sendiri lebih dekat dengan lokasi prostitusi ketimbang dengan catatan sejarahnya. Makam yang berada di dekat lokasi prostitusi dipercaya sebagai pusara Sunan Kuning. Namun, ada 2 versi soal sosok Sunan Kuning itu.

Lokasi yang disebut-sebut sebagai Makam Sunan Kuning berada di Jalan Taman Sri Kuncoro III Nomor 28, RT 3 RW 2, Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang atau sekitar 100 meter dari pusat lokalisasi.

Sunan Kuning merupakan tokoh penyebar agama Islam yang hidup sekitar tahun 1740 M. Selain aktif sebagai pendakwah, Sunan Kuning juga dikenal pandai ilmu pengobatan. Selain dipanggil Sunan Kuning, Beliau kerap juga disapa Soe An Ing, Raden Mas Garendi atau Amangkurat V.

Makam Sunan Kuning kental dengan budaya China. Arsitektur pada gerbang makam, cungkup dan pusara berwarna serba merah dan kuning, yang mana khas negeri tirai bambu.

7. Firdaus Fatimah Zahra

Wisata religi ini cukup viral di berbagai kalangan. Anda dapat mengunjungi tempat ini jika berencana melakukan ibadah haji atau umroh dalam waktu dekat.

Meski jadi tempat manasik eksklusif, banyak masyarakat umum yang datang ke tempat ini untuk berwisata. Anda dapat merasakan sensasi tanah suci Makkah dengan bermacam replikanya.

Firdaus Fatimah Zahra berlokasi di Muntal, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang atau sekira membutuhkan waktu 30 menit dari pusat Kota Semarang.

8. Masjid Agung Kauman Semarang

Dulunya, masjid ini sebagai pusat syiar agama Islam. Masjid yang terletak di Alun-Alun Barat Semarang ini kerap digunakan sebagai penyelenggaraan pengajian berskala besar dan tempat berkumpulnya para ulama.

Namun, pada tahun 1938, alun-alun yang berada di depan masjid ini beralih fungsi menjadi kawasan komersial, yakni semenjak keberadaan Pasar Johar, Pasar Yaik dan pusat perdagangan Johar.

Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, Masjid Agung Kauman Semarang ini menyimpan cerita yang unik. Pasalnya, masjid ini merupakan satu-satunya masjid di Indonesia yang mengumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia secara terbuka setelah beberapa saat proklamasi kemerdekaan RI.

Berdasarkan sumber dari Yayasan Masjid Agung Semarang (MAS), masjid ini didirikan oleh Sunan Pandan Arang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran.

9. Makam Mbah Joyo Sampurno

Mbah Joyo Sampurno merupakan keturunan dari keluarga Kerajaan Pajang, sehingga makamnya banyak didatangi oleh keluarga Kerajaan Pajang. Setiap malam Rabu Wage (selapanan/35 hari), warga Kelurahan Sadeng secara rutin melakukan ziarah ke Makam Joyo Sampurno.

Kegiatan ini berupa pembacaan Surat Yasin, tahlil dan selamatan (makan bersama, Red). Kemudian, diakhiri dengan pengajian di makam tersebut.

Makam Mbah Joyo Kusumo terletak di Kampung Ndesel RW 3, Kelurahan Sadeng, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

10. Makam Waliyullah Hasan Munadi

Makam Waliyullah Hasan Munadi berlokasi di Dampyak, Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Makamnya ditutupi kain berwarna hijau tua bertulisan Arab.

Waliyullah Hasan Munadi atau yang biasa dikenal dengan sebutan Bambang Kartonadi merupakan Keturunan Brawijaya V, kakak dari Raden Patah Demak.

Beliau memiliki anak bernama Waliyullah Hasan Dipuro yang dimakamkan di lokasi setempat, namun berada di bagian bawah. Berdasarkan keterangan dari juru kuncinya, Waliyullah Hasan Munadi diperintahkan Sunan Ampel untuk bertapa.

Dari keberhasilannya dalam bertapa inilah diberi gelar Waliyullah Hasan Munadi. Selain itu, Waliyullah Hasan Munadi mempunyai peninggalan berupa Sendang Kalimah Toyyibah yang ditemukan pada tahun 1986. Sendang tersebut ditemukan ketika membangun Masjid Nyatnyono

11. Makam Habib Thoha bin Muhammad bin Yahya

Makam Habib Thoha bin Muhammad bin Yahya berlokasi di Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Haulnya diperingati setiap bulan Jumadil Awal dengan berbagai kegiatan agama.

Dulunya, daerah makam itu berupa tanah pemakaman umum yang berubah menjadi area perumahan. Berdasarkan data bahwa tanah di area makam tersebut merupakan tanah perdikan (bebas pajak) hadiah dari Raja Kraton Yogyakarta pada bala tentara yang dipimpin oleh Mbah Singo Barong atau yang dikenal dengan Habib Hasan bin Thoha bin Yahya.

Habib Thoha bin Muhammad bin Yahya lahir di Kota Inat (Hadramaut) dari pasangan Habib Thoha bin Yahya dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah Al-Idrus. Beliau mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orang tuanya sampai hafal AlQuran sebelum usia 7 tahun. Sebelum menginjak dewasa, Beliau telah banyak menghafal kitab-kitab.

Demikianlah 10+ rekomendasi objek wisata religi di Semarang yang dapat Anda kunjungi. Semoga informasi ini dapat membantu Anda. (Lingkar Network | Jazilatul Khofshoh – Lingkarjateng.id)