SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pasca padamnya api di Gunung Merbabu, kini masalah baru harus dialami warga di pemukiman sekitar Gunung Merbabu. Pasalnya, sejumlah pipa peralon air yang selama ini digunakan warga untuk mengairi wilayah pemukiman rusak akibat kebakaran.
Sebelumnya, lahan hutan seluas 848,5 hektare (Ha) di Gunung Merbabu hangus terbakar sejak Jumat, 27 Oktober 2023 sampai dengan Minggu, 29 Oktober 2023. Sebanyak 91 warga dari dua dusun yakni Dusun Gedong dan Dusun Ngaduman, Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang terpaksa mengungsi.
Kini, para pengungsi tersebut sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, dan mengalami kendala masalah krisis air, utamanya di dua dusun yakni Dusun Gedong dan Dusun Ngaduman.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan bahwa krisis air yang dialami warga di pemukiman sekitar Gunung Merbabu itu sudah terjadi sejak kebakaran hutan berlangsung.
“Pipa-pipa air yang digunakan mengairi pemukiman warga di sekitar Gunung Merbabu itu rusak karena terkena api. Jadi air-air yang dari sumber mata air yang dialirkan ke warga melalui pipa itu sekarang banyak yang terputus, karena pipa air rusak terkena dampak kebakaran hutan di Gunung Merbabu tersebut,” katanya saat dikonfirmasi, pada Selasa, 31 Oktober 2023.
Pihaknya juga mengungkapkan, hingga hari ini BPBD Kabupaten Semarang masih terus melakukan dropping air ke beberapa wilayah dusun yang ada di sekitar Gunung Merbabu.
“Kalau hari ini kami masih mengirim 30 tangki air ke beberapa wilayah pemukiman warga. Dan ini memang kami lakukan terus sejak kebakaran itu masih terjadi, karena memang tidak semua warga mengungsi, sehingga masih ada sekitar 500 orang saat itu yang tinggal di rumah mereka. Oleh karena itu kami lakukan dropping air sejak kebakaran terjadi sampai sekarang sudah padam,” jelas Alex.
Adapun beberapa lokasi yang mendapat pasokan bantuan air bersih itu diantaranya ada Dusun Gedong, Dusun Ngaduman, Ngelo, Cenglok yang masuk wilayah Desa Tajuk, dan satu di Dusun Thekelan yang masuk di wilayah Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
“Selain itu untuk posko komando di Batur Reaksi Cepat (BRC) ini sudah kami tutup juga, dan kedepan kami akan meminta untuk pengelola Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) untuk melakukan evaluasi, rehabilitasi dan mitigasi terkait dengan Gunung Merbabu. Ini kami harapkan tetap akan ada terus kerjasama untuk bersama-sama menjaga Gunung Merbabu, bersama dengan kami, Pemkab Semarang, dan relawan di Kabupaten Semarang,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Semarang, Istichomah mengatakan bahwa pihaknya juga masih terus melakukan kerjasama bersama BPBD Kabupaten Semarang, dan juga pemerintah desa (pemdes) setempat untuk segera merehabilitasi infrastruktur di beberapa wilayah terdampak.
“Ya segera ada rehabilitasi infrastruktur yang rusak secara bersama-sama dengan pihak terkait ini dengan tujuan masyarakat agar bisa melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Termasuk diantaranya bantuan dropping air ini, karena banyak sekali pipa peralon air yang terbakar belum diganti, sehingga tidak berfungsi dengan baik, maka dropping air ini masih terus dilakukan,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, akan segera dilakukan mitigasi kebencanaan. Harapannya, warga yang ada di pemukiman sekitar Gunung Merbabu ini bisa kembali hidup normal.
“Iya segera akan dilakukan penyempurnaan mitigasi kebencanaan ya, sehingga warga ini bisa hidup normal lagi setelah bencana alam kebakaran hutan ini,” bebernya.
Sampai saat ini, ungkap Istichomah, warga yang ada di beberapa lokasi tersebut juga masih mendapatkan bantuan suplai logistik.
“Untuk bantuan logistik ini kami berikan secara mentah ke warga di beberapa lokasi tadi, dan sudah kami distribusikan kemarin, dan logistik mentah itu bisa memenuhi kebutuhan warga selama tiga hari kedepan,” imbuhnya.
Bantuan logistik yang datang ke Dinsos Kabupaten Semarang tersebut langsung didistribusikan kepada warga.
“Jika ada bantuan logistik yang datang ke kami maka kami akan arahkan langsung ke pemdes setempat atau kepala dusun (kadus), jadi mereka yang akan mengkoordinir logistik yang masuk ke warga untuk segera dibagikan ke warga dibeberapa lokasi tersebut,” pungkasnya. (Lingkar Network | Hesty Imaniar – Lingkarjateng.id)






























