PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Bencana banjir akibat limpasan Sungai Bremi dan cuaca ekstrem masih melanda Kota Pekalongan hingga Senin, 19 Januari 2026 pagi. Berdasarkan laporan Posko Siaga Bencana BPBD Kota Pekalongan, sebanyak 8.692 kepala keluarga (KK) terdampak di empat kecamatan, sementara 2.400 jiwa terpaksa mengungsi ke puluhan titik pengungsian.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menyampaikan banjir dipicu hujan disertai angin kencang yang mengguyur Kota Pekalongan sejak Minggu, 18 Januari 2026 pukul 19.30 WIB hingga Senin, 19 Januari 2026 pukul 03.00 WIB. Kondisi tersebut sesuai peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah pada 15–18 Januari 2026.
“Hujan juga terjadi di wilayah selatan Kota Pekalongan, sehingga daya tampung daerah aliran sungai penuh dan air melimpas ke wilayah Kota Pekalongan yang secara topografi lebih rendah,” ujar Budi dalam laporan situasi BPBD, Senin, 19 Januari 2026 pukul 09.00 WIB.
BPBD mencatat genangan banjir masih terjadi di sejumlah ruas jalan dan permukiman dengan ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 100 sentimeter. Wilayah terdampak meliputi Jalan Progo, Kurinci, Majapahit, dan Slamet dengan genangan 20–50 cm; Jalan Cempaka, Truntum, dan Teratai setinggi 20–30 cm; Jalan Semarang, Surabaya, dan Abdullah R setinggi 20–30 cm; Jalan Blimbing dan Merak sekitar 30 cm; Jalan Patriot, Perintis Kemerdekaan, Pramuka 10–50 cm; serta Jalan Bahagia mencapai 40 cm.
Selain itu, genangan juga terjadi di Jalan Jlamprang (30 cm), Ki Mangun Sarkoro dan Patiunus (20–40 cm), wilayah Sampangan (20 cm), kawasan Pabean (10–50 cm), Kampung Baru Tirto (50–100 cm), Kampung Baru (40–50 cm), serta Jalan Singosari dengan ketinggian air 50–70 cm.
Secara administratif, banjir melanda empat kecamatan. Di Kecamatan Pekalongan Timur, genangan terjadi di sebagian wilayah Kelurahan Kalibaros, Poncol, Setono, Klego, dan Noyontaansari dengan ketinggian 20–50 cm. Kecamatan Pekalongan Barat menjadi wilayah terparah, meliputi sebagian besar Kelurahan Tirto serta sebagian Podosugih, PKK, Sapuro Kebulen, Bendan Kergon, Pringrejo, Medono, dan Buaran Kradenan dengan ketinggian 30–80 cm.
Sementara itu, di Kecamatan Pekalongan Selatan, banjir menggenangi sebagian kecil wilayah Banyurip, Jenggot, dan Kuripan Yosorejo dengan ketinggian 20–40 cm. Di Kecamatan Pekalongan Utara, genangan terjadi di sebagian Padukuhan Kraton serta sebagian kecil Bandengan, Krapyak, dan Panjang Wetan dengan ketinggian serupa.
Untuk penanganan darurat, BPBD Kota Pekalongan membuka 24 titik pengungsian yang tersebar di aula kecamatan, masjid, musala, sekolah, kantor, hingga fasilitas umum lainnya. Pengungsian terbesar berada di Aula Kecamatan Pekalongan Barat (449 jiwa), Masjid Al Karomah Tirto (370 jiwa), SDN Tirto 03 (348 jiwa), serta sejumlah lokasi lain di wilayah Tirto, Podosugih, Klego, dan PKK.
BPBD bersama TNI, Polri, OPD terkait, dan relawan kebencanaan terus melakukan monitoring dan patroli kesiapsiagaan, evakuasi warga terdampak, asesmen dampak serta kebutuhan logistik, pengaktifan posko kebencanaan, pendataan awal, serta fasilitasi sarana dan prasarana pengungsian.
“Seluruh unsur stakeholder kebencanaan kami libatkan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal dan keselamatan warga tetap menjadi prioritas,” pungkas Budi.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar S




























