SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat tiga kecamatan menjadi wilayah tertinggi kasus penderita tuberkulosis (TBC) yakni Kecamatan Gunungpati, Genuk, dan Ngaliyan.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, menjelaskan sampai saat ini pihaknya menemukan 2.300 kasus TBC yang ada di Ibu Kota Jawa Tengah dari total 3.300 orang yang telah mendapatkan pengobatan.
“Saat ini 2.300 kasus , yang belum selesai pengobatan, sebetulnya ada 3.300 tapi ada yang sudah selesai pengobatan,” katanya baru-baru ini.
Hakam menyebut Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang selama empat bulan akan melakukan skrining TBC dengan target 10 ribu sampel yang menyasar daerah dengan angka persentase kasus masih tinggi.
“Kita kan dapat bantuan tiga alat skrining dari pusat, kita nanti pusatkan di tiga kecamatan ini dan kecamatan terdekat, misal di Ngaliyan bisa cover wilayah lainnya, lalu di Gunungpati, dan Bangetayu, untuk Genuk wilayah Timur dan Utara,” ujarnya.
Hakam tidak merinci angka penderita TBC di masing-masing kecamatan. Namun, dari alat skrining TBC yang diberikan oleh pemerintah pusat dan provinsi, dalam satu hari bisa melakukan pemeriksaan sampai 50 sampel termasuk menggunakan X-ray untuk memeriksa kesehatan paru -paru.
Saat ini ada tiga alat yang diberikan kepada Dinkes Kota Semarang, yakni di Puskesmas Bangetayu, Puskesmas Ngaliyan, dan Puskesmas Gunungpati. Pihaknya pun akan menggencarkan cek kesehatan gratis (CKG) dan skrining TBC secara masif dan gratis.
“Misal di Bangetayu, ada swab dan sinar X, jadi nggak perlu ke rumah sakit. Bisa dilakukan di tiga puskesmas,” jelasnya
Lebih lanjut, Hakam mengatakan ada ciri-ciri pasien yang mengarah pada positif TBC, yaitu batuk yang tak kunjung reda selama dua minggu lebih, berat badan turun, dan nafsu makan turun.
“Kalau ada ciri-ciri itu segera swab dahak sama dilakukan pemeriksaan X-ray, jika positif TBC, maka akan dilakukan pengobatan selama enam bulan. Sementara kalau negatif akan dilakukan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) selama 12 minggu,” pungkasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid





























