KENDAL, Lingkarjateng.id – Tumpukan sampah yang menumpuk di kawasan jalan Weleri, Kabupaten Kendal telah dibersihkan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga memasang papan bertuliskan “TPS ditutup dan dilarang buang sampah di area ini”.
Kondisi tumpukan sampah di kawasan kota Weleri tepatnya di depan salah satu SMP swasta setempat sebelumnya dikeluhkan lantaran menganggu kenyamanan pengguna jalan hingga kegiatan belajar mengajar.
Camat Weleri, Dwi Cahyono Suryo, mengungkapkan setelah dilakukan pembersihan, pemerintah desa bersama DLH Kendal memasang papan peringatan untuk mengantisipasi agar warga tidak kembali membuang sampah di lokasi tersebut.
“Dan sebagai antisipasi agar tidak ada lagi yang membuang sampah di sana, warga juga akan melakukan pengawasan. Jadi ada warga yang piket. Karena itu kadang yang buang sampah kan juga dari luar bukan warga desa situ,” terang Camat Weleri pada Selasa, 6 Januari 2026.
Sementara untuk pengelolaan sampah warga setempat, Pemerintah Desa Nawangsari memberlakukan pengangkutan sampah dari masing-masing rumah warga.
“Jadi sampahnya tidak dibuang tapi dipungut pagi-pagi, kemudian langsung diangkut oleh DLH,” terangnya.
Ia berharap dengan upaya yang dilakukan itu bisa membuat pemandangan jalan utama Weleri bersih dan indah serta tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Kepala DLH Kendal, Aris Irwanto, menerangkan DLH Kendal berharap masyarakat dapat tertib dalam membuang sampah pada tempatnya.
“Jadi kami harap kalau truk sampah sudah mengambil sampah itu ya masyarakat juga jangan terus langsung membuang disitu. Bisa dibuang lagi pagi harinya,” ucapnya.
DLH juga berencana memasang CCTV di area tersebut untuk memantau dan mengawasi sehingga masyarakat tidak membuang sampah sembarangan di area itu.
“Mudah-mudahan kita bisa pasang CCTV seperti yang di Kaliwungu agar memantau,” ujarnya.
Aris berpesan agar pengelolaan sampah dapat dilakukan hingga tingkat rumah tangga sehingga sampah di Kabupaten Kendal tidak trrus menerus menumpuk.
“Kami juga berpesan agar masyarakat dapat mengurangi sampah kemudian juga yang organik bisa diolah menjadi sampah, yang non organik bisa dijadikan rupiah dengan kerjasama dengan bank sampah,” tuturnya.
Jurnalis: Anik Winda
Editor: Ulfa





























