Semarang (lingkarjateng.id) – Jelang bulan suci Ramadhan, warga Desa Jatirejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang terus melestarikan kearifan lokal dengan melakukan prosesi tradisi ganti luwur di petilasan Sunan Kalijaga yakni Balai Panjang.
Kegiatan tersebut kerap memantik perhatian khalayak ramai. Dimana tradisi yang diberi nama ganti luwur (kain mori penutup nisan makam, red) di lokasi peninggalan Sunan Kalijaga, seolah seperti tak pernah lekang oleh waktu khususnya bagi warga setempat.
Diketahui, Balai Panjang di Desa Jatirejo menjadi pusat wisata religi petilasan Sunan Kalijaga, sehingga tradisi ganti luwur ini semakin kental maknanya. Terlebih bangunan penting dalam sejarah penyebaran Agama Islam di Suruh Kabupaten Semarang baru saja selesai direnovasi.
“Pemasangan luwur ini juga memiliki makna sambungan keluarga dan sanak saudara dari Sunan Kalijaga yang dulunya Sunan Kalijaga ini pernah singgah di Desa Jatirejo, Suruh ini,” ungkap Keturunan Sunan Kalijaga Ke-15, Raden Kristiawan Saputra, Jumat (13/2).
“Sehingga luwur itu juga memiliki makna sambung silaturahmi antara keluargaa Sunan Kalijaga bersama warga daerah dimana Sunan Kalijaga pernah singgah,” sambungnya.
Raden Kristiawan menerangkan bahwa luwur adalah kain mori atau sebuah kain yang digunakan untuk membungkus nisan Sunan Kalijaga yang tepatnya ada di Kadilangu, Kabupaten Demak.
“Karena dulu Sunan Kalijaga pernah singgah di Desa Jatirejo, Suruh, Kabupaten Semarang ini maka tradisi ganti luwur itu dilakukan di Balai Panjang yang merupakan peninggalan Sunan Kalijaga ini,” terang dia.
“Dan luwur yang ada di Jatirejo, Suruh ini telah terpasang sejak tahun 1960an dimana luwur sebagai penanda bahwa Sunan Kalijaga pernah singgah dan berdakwah di desa ini,” imbuhnya.
Balai Panjang di Desa Jatirejo, Suruh merupakan sebuah tempat berbentuk joglo kecil yang dulunya merupakan peninggalan Sunan Kalijaga saat menyebarkan Agama IsIam di wilayah Suruh.
Konon, joglo itu juga pernah digunakan untuk berdiskusi oleh para sesepuh termasuk Sunan Kalijaga saat hendak pembangunan Masjid Agung Demak.
Prosesi penggantian luwur berjalan dengan sakral, kain mori tersebut dipasang di atap joglo sedangkan di empat sisi tiang juga dipasang luwur. Penyerahan dan pemasangan luwur itu langsung dilakukan oleh keturunan Sunan Kalijaga Demak Ke-15.
“Sehingga, luwur tersebut sengaja diberikan kepada masyarakat Desa Jatirejo, Suruh, Kabupaten Semarang sebagai simbol tali silaturahmi antara warga Desa Jatirejo dengan keturunan Sunan Kalijaga, sekaligus lambang perjalanan dakwah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut oleh Sunan Kalijaga,” katanya.
Kepala Desa (Kades) Jatirejo, Kharisma Teguh Pribadi menambahkan jika Balai Panjang merupakan warisan peninggalan Sunan Kalijaga, yang bagi masyarakat Jatirejo sangat penting meberadaannya karena menjadi simbol pemersatu masyarakat.
“Ini warisan sudah ratusan tahun dan masih dijaga warga disini, sehingga Balai Panjang ini sebagai ikon penting dari Desa Jatirejo itu sendiri, sehingga ke depannya juga akan menjadi ikon wisata religi di Desa Jatirejo kami ini,” kata Kharisma.
Menurutnya, pihak pemerintah desa setempat memang akan mengembangkan Desa Jatirejo Suruh sebagai desa wisata religi. Sebab di desa tersebut selain Balai Panjang yang merupakan situs peninggalan Sunan Kalijaga, masih ada beberapa potensi wisata religi lainnya.
“Selain Balai Panjang, di Desa Jatirejo Suruh ini juga ada potensi wisata religi lainnya, seperti Makam Petik Penawangan, Sendang Tapak Wali, Masjid Baiturrohim Jatirejo. Semua dikembangkan jadi deswita religi, mengingat banyak warga luar datang di desa kami,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, per tahun 2025 lalu Desa Jatirejo Suruh telah memiliki Surat Keputusan sebagai Desa Wisata (Deswita) khususnya wisata religi untuk meningkatkan roda perekonomian masyarakat setempat.
” Desa Jatirejo ini banyak pelaku UMKM, tentunya ini menjadi kolaborasi yang baik antara deswita religi. Sehingga, dengan potensi wisata alam yang kita miliki dan dikolaborasikan tentu akan mampu meningkatkan perekonomian warga,” bebernya.***
Jurnalis : Hesty Imaniar
Editor : Fian































