SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkapkan bahwa mayoritas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang belum memiliki sertifikat higienis.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan bahwa dari 55 dapur MBG di wilayah setempat, hanya tiga unit yang memiliki Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (LSHS).
“Yang punya SLHS baru tiga (SPPG) di Semarang,” ujarnya di Kota Semarang pada Jumat, 3 Oktober 2025.
Hakam menekankan pentingnya sertifikasi tersebut bagi semua SPPG agar makanan bergizi gratis yang dibagikan di sekolah aman dan terjamin untuk dikonsumsi.
Sementara itu, di tengah maraknya kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di berbagai wilayah, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) memberikan pelatihan kepada para penerima MBG, mulai dari siswa hingga guru.
Kepala Dishanpan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menjelaskan pelatihan ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko keracunan makanan di Program MBG.
“Jadi kami melakukan pembinaan bagi sekolah-sekolah untuk mengantisipasi kemungkinan keracunan dalam praktik makan bergizi gratis,” ujar Endang.
Program ini diterapkan di SD melalui inisiatif bernama ‘Detektif Pangan’ yang mana siswa dibimbing guru untuk menguji sampel makanan matang.
“Dengan didampingi guru, mereka bisa mengetes apakah makanan matan tersebut apakah mengandung pestisida, boraks, formalin atau pewarna berbahaya seperti rodamin,” ujarnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid































