PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – DPRD Provinsi Jawa Tengah tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengelolaan Lahan Kritis dan Kehutanan Daerah sebagai langkah strategis untuk memperkuat sektor kehutanan dan lingkungan hidup.
Hal tersebut diungkapkan Oleh Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Harun Abdul Khafizh, saat mengikuti kegiatan Aksi sosial penanaman mangrove bertema “Bangkit Bersama, Hijaukan Kembali Pesisir Kita” digelar di kawasan Ekowisata Mangrove Mulyoasri, Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin, 30 Maret 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan lingkungan pasca banjir yang melanda wilayah tersebut dalam satu hingga dua bulan terakhir.
Ia menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya merupakan bagian dari pelaksanaan tugas Komisi B yang menjadi mitra di sektor kehutanan dan lingkungan hidup.
“Kami hadir untuk memberikan dukungan, support, dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan penanaman mangrove ini,” ujarnya.
Harun mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki komitmen kuat untuk memperkuat sektor lingkungan hidup dan kehutanan.
Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah pembahasan Raperda tentang Pengelolaan Lahan Kritis dan Kehutanan Daerah yang telah disetujui untuk dibahas tahun ini.
“Ini menjadi komitmen bersama antara eksekutif dan legislatif untuk semakin menguatkan sektor kehutanan dan lingkungan hidup di Jawa Tengah,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Harun juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang berperan dalam kegiatan tersebut.
Penanaman mangrove ini dikomandoi oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah melalui Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah 4 yang dipimpin Gunawan, serta melibatkan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Kelompok Tani Hutan (KTH) Benowo Sekar, dan komunitas Lintas Komunitas Peduli Pekalongan (LKPP).
Menurutnya, kegiatan ini merupakan langkah positif yang perlu terus dilanjutkan secara berkelanjutan, mulai dari wilayah hulu hingga hilir.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan secara menyeluruh, mengingat banjir yang terjadi sebelumnya menjadi indikator perlunya perbaikan tata kelola wilayah.
“Di wilayah hulu seperti Petungkriyono, Lebakbarang, Paninggaran, dan daerah atas lainnya saat ini sedang diupayakan perbaikan. Kemudian daerah aliran sungainya juga perlu kita jaga, hingga ke wilayah hilir seperti di kawasan pesisir ini,” paparnya.
Lebih lanjut, Harun menyebut penanaman mangrove juga memiliki dampak positif dalam menurunkan emisi karbon, khususnya di kawasan Pantura yang kerap mengalami peningkatan suhu udara saat musim panas.
“Kita merasakan sendiri suhu semakin panas. Mudah-mudahan dengan semakin lestarinya dan lebatnya mangrove di wilayah ini, bisa membantu menurunkan temperatur udara,” katanya.
Selain itu, ia berharap kawasan Ekowisata Mulyoasri dapat memberikan manfaat ganda, baik dari sisi pelestarian lingkungan maupun pengembangan sektor pariwisata berbasis ekowisata.
“Ini diharapkan bisa menjadi percontohan pengelolaan ekosistem mangrove yang baik di Jawa Tengah,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Rosyid






























