DEMAK, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak menargetkan perbaikan tanggul Sungai Tuntang yang jebol dapat diselesaikan dalam waktu sepekan guna mengantisipasi potensi curah hujan tinggi.
Bupati Demak, Eisti’anah, mengatakan percepatan perbaikan terus dilakukan dengan dukungan alat berat dari berbagai pihak.
“Harapannya memang bisa cepat selesai, setidaknya sepekan ke depan. Apalagi, saat ini di lapangan sudah ada alat berat dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, termasuk dari Pemkab Demak juga ikut menerjunkan satu unit ekskavator,” katanya di Demak, Kamis, 9 April 2026.
Ia mengungkapkan sempat terjadi luapan air kembali yang membuat warga panik. Namun, kondisi tersebut berhasil diatasi setelah tanggul kembali ditutup. Hingga kini, proses perbaikan masih berlangsung di sejumlah titik.
Sekretaris Daerah Demak Ahmad Sugiharto menambahkan, satu unit ekskavator juga digunakan untuk membersihkan area sekitar tanggul yang jebol. Endapan lumpur yang cukup tebal menjadi kendala dalam proses pemulihan sehingga membutuhkan alat berat.
Perbaikan tanggul telah dilakukan sejak Minggu, 5 April 2026, oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana di enam titik yang tersebar di Desa Trimulyo dan Desa Sidoharjo.
Berdasarkan data BPBD Demak, penanganan di Desa Trimulyo melibatkan empat unit ekskavator PC 200 yang difokuskan di Dusun Solowere dan Dusun Solondoko. Di Dusun Solowere, perbaikan menggunakan 300 jumbo bag, 400 sesek, serta masing-masing 50 batang pancang bambu dan glugu, dengan target penyelesaian sekitar 10 hari.
Sementara itu, di Dusun Solondoko dan Desa Sidoharjo, perbaikan dilakukan menggunakan 600 jumbo bag, 600 sesek, serta 90 batang pancang bambu dan glugu, dengan estimasi pengerjaan sekitar 14 hari.
Di Desa Sidoharjo, proses penanganan juga didukung dua unit dozer D65 untuk perapian lokasi, serta satu unit ekskavator untuk pengisian material tanah ke dalam jumbo bag dan tanggul.
Diketahui, tanggul Sungai Tuntang jebol di enam titik pada Jumat (3/4) pagi, masing-masing tiga titik di Desa Trimulyo dengan panjang sekitar 30 meter dan 10 meter, serta tiga titik di Desa Sidoharjo sepanjang sekitar 15 meter.
Akibat kejadian tersebut, banjir merendam 2.116 rumah dan berdampak pada 7.606 jiwa. Sebanyak 2.839 warga dari sembilan desa di empat kecamatan sempat mengungsi, namun saat ini seluruh pengungsi dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing.
Sembilan desa terdampak meliputi Trimulyo, Sidoharjo, Turitempel, Tlogorejo, dan Bumiharjo di Kecamatan Guntur; Desa Ploso di Kecamatan Karangtengah; Desa Lempuyang di Kecamatan Wonosalam; serta Desa Sarimulyo dan Solorire di Kecamatan Kebonagung.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid
































