Kudus (lingkarjateng.id) – Bordir Icik merupakan salah satu produk unggulan khas Kabupaten Kudus. Berbeda dengan bordir lainnya, Bordir Icik dibuat dengan menggunakan mesin jahit manual sehingga menghasilkan hasil sulam yang lebih detail, padat dan halus.
Sayangnya, keberadaan Bordir Icik ini menghadapi tantangan baru di era modern seperti sekarang. Tantangan tersebut yakni terkait regenerasi para pengrajin Bordir Icik di Kabupaten Kudus.
Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi (Disnakerperinkop) dan UKM Kabupaten Kudus tercatat jumlah perajin Bordir Icik saat ini ada sebanyak 25 orang.
“Jumlah perajin Bordir Icik yang ada di data kami memang 25 orang. Tapi yang belum terdata juga ada sekitar ratusan orang,” kata Kepala Bidang Koperasi dan UKM pada Disnakerperinkop UKM Kabupaten Kudus, Muh Faiz Anwari, Kamis (9/4).
“Meski demikian, jumlah itu terbilang sedikit dan menjadi tantangan untuk regenerasi,” sambungnya.

Menurut Faiz, faktor utama minimnya regenerasi perajin Bordir Icik khas Kudus ini yaitu karena penghasilannya yang minim. Ia menyebut jika generasi sekarang lebih memilih bekerja di perusahaan dengan nilai gaji yang lebih tinggi dan pasti.
“Sekarang untuk regenerasi perajin Bordir Icik ini sulit karena penghasilannya sedikit. Masyarakat sekarang lebih memilih kerja di pabrik karena pendapatannya lebih banyak, ini yang jadi tantangan kami untuk melestarikan industri khas Kudus ini,” terangnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus pun terus mendorong industri bordir lokal agar mampu bertahan hingga menembus pasar nasional dan internasional. Upaya itu dimulai dengan pendataan pelaku usaha bordir, workshop, hingga pendampingan berkelanjutan.
“Harapannya bordir Kudus ini bisa dikenal tidak hanya di daerah, tetapi juga di tingkat nasional,” tandasnya.***
Jurnalis : Nisa Hafizhotus Syarifa
Editor : Fian

































