SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana mengusulkan kembali gelar pahlawan nasional untuk RM Bambang Soeprapto.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengenang sosok RM Bambang Soeprapto sebagai pejuang yang sangat gigih dan pantang menyerah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan serta ikut memimpin Pertempuran Lima Hari di Semarang.
RM Bambang Soeprapto merupakan komisaris polisi II dan ketua polisi istimewa yang menjadi cikal bakal mobile brigade (Mobrig atau Brimob).
Oleh karena itu, Gubernur Jateng menegaskan bakal terus mengupayakan agar RM Bambang Soeprapto bisa mendapatkan gelar pahlawan nasional pada 2026.
Pemprov Jateng sudah tiga kali mengajukan nama RM Bambang Soeprapto sebagai pahlawan nasional namun belum terkabulkan.
“Kami akan terus berjuang agar tahun 2026 RM Bambang Soeprapto mendapatkan gelar pahlawan nasional,” katanya di Semarang, Sabtu, 10 Januari 2026.
Pada Jumat, 9 Januari 2026, Taman dan Monumen RM Bambang Soeprapto yang ada di Gajahmungkur, Kota Semarang, juga telah diresmikan.
Inisiatif pembuatan taman dan monumen tersebut berasal dari keluarga ahli waris yang menemui Gubernur semasa masih menjabat sebagai Kapolda Jateng.
Setelah itu, oleh Komandan Satuan Brimob, berkoordinasi dengan Pemkot Semarang untuk dicarikan tempat sehingga dapat di Taman Gajahmungkur, dengan proses pembuatan memakan waktu sampai satu tahun.
Monumen atau patung RM Bambang Soeprapto setinggi sekitar 10 meter dibuat oleh pematung Heru Joning Siswanto dan berdiri di tengah taman dengan luas 70×24 meter, yang didesain oleh Seno Aditya dan M Danar Sasmito.
Pembuatan monumen dan taman tersebut menggunakan dana pribadi dari keluarga ahli waris, sedangkan pengelolaan dan perawatan Taman dan Monumen RM Bambang Soeprapto akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang.
Sementara itu, Haryono Eddyarto, selaku perwakilan keluarga ahli waris RM Bambang Soeprapto mengatakan bahwa monumen tersebut diharapkan menjadi inspirasi generasi muda Semarang dan Jawa Tengah, dalam menghadapi setiap tantangan masa depan.
“Bagi keluarga, hari ini momen penting untuk mengenang sekaligus menghormati jasa pejuang, ayah, suami, dan kepala rumah tangga yang telah mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan bangsa,” terangnya.
Pembuatan monumen dan taman tersebut bukan untuk mengkhususkan sang pejuang, melainkan sebagai sarana pembelajaran sejarah dan inspirasi bagi generasi muda.
“Semoga taman dan monumen ini menjadi sumber inspirasi untuk berkarya dan berinovasi, serta menjaga martabat bangsa Indonesia ke depan,” katanya.
Jurnalis: Anta
Editor: Ulfa






























