SEMARANG, Lingkarjateng.id – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan jika penanganan sampah tidak cukuk hanya mengutamakan aspek kebersihan, tetapi juga harus tepat dalam hal sistem dan tata kelola.
“Dua minggu ke depan kita akan rapat koordinasi dengan seluruh stakeholder. Kita cari format supaya sampah ini bukan cuma bersih, tetapi juga benar,” ujarnya.
Menurut Agustina, selama ini pengelolaan data sampah masih menjadi hambatan besar. Pasalnya data yang tercatat di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersifat universal dan tidak memberikan informasi detail per wilayah.
“Kalau kita hanya membaca data yang ada di DLH, kita tidak akan mendapat clue atau petunjuk yang jelas tentang berapa sebenarnya jumlah sampah di tiap kecamatan atau kelurahan. Karena datanya masih gelondongan. Basisnya jalur, bukan titik,” terangnya.
Salah satu permasalahan teknis pengelolaan sampah yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Semarang adalah tumpang tindih wilayah pengangkutan sampah yang didasarkan pada pembagian jalur, bukan administrasi wilayah.
Ia mencontohkan seperti jalan yang dilalui dua kecamatan berbeda, menyebabkan kebingungan dalam pengelolaannya.
“Terus di jalan sana juga ada kecamatan sama yang terlibat. Enggak mudah kayak gitu,” ungkapnya.
Usulan Pengolahan Sampah Jadi Energi di Semarang Tunggu Persetujuan Kemenkeu
Pemkot Semarang sedang mengupayakan pelimpahan kewenangan pengangkutan dari DLH ke masing-masing kecamatan. Namun, pelimpahan ini hanya akan dilakukan jika basis datanya telah valid dan sistem pelaporannya transparan.
“Ini bukan supaya berbeda dengan yang lalu, bukan. Titiknya adalah mengangkut seluruh sampah di seluruh titik sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” ucapnya.
Kota Semarang juga menjadi salah satu titik sasaran Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam pengeloalan sampah sehingga harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.
“Ini kan sudah ada revisi Perpres, dan Kota Semarang ini adalah salah satu titik sasaran PSN. Ini mau tidak mau, mau dengan pembiayaan Danantara atau dengan pembiayaan investasi, kita harus siap,” ujarnya.
Menurut Agustina, dalam kerangka PSN tersebut, ada dua hal yang harus dipastikan oleh Kota Semarang. Pertama, ketersediaan dan kesiapan lahan. Kedua, manajemen pengangkutan sampah ke TPA yang berjalan dengan baik dan efisien.
“Di samping itu kan kalau kita manajemennya sampah benar, bersih itu seluruh titik. Seluruh titik akan bersih,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa






























