PEKALONGAN, Lingkarjateng.id — Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota Pekalongan. Hingga saat ini baru 50-60 persen pengelolaan sampah yang sudah berjalan.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid (Aaf), pengelolaan sampah masih berpotensi meningkat seiring pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) yang telah dibangun.
“Sekarang pengelolaan sampah di Kota Pekalongan sudah 50–60 persen. Itu sudah kita maksimalkan. Tapi itu belum termasuk beberapa TPS 3R yang kita bangun dan baru kita resmikan, bahkan ada yang belum operasional,” ujarnya, Senin, 5 Januari 2026.
Wali Kota Aaf optimistis jika seluruh TPS 3R sudah berjalan, pengelolaan sampah dapat meningkat menjadi 70–80 persen. Menurutnya, angka tersebut sudah sangat baik, meski mencapai 100 persen dinilai masih sulit karena menyangkut kesadaran masyarakat.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri. Pemkot Pekalongan kini menghadapi penurunan Dana Alokasi Umum (DAU) yang berdampak pada berkurangnya porsi pembiayaan pengelolaan sampah.
“Harapannya ada dukungan program dari Pemerintah Pusat. Karena DAU kita sangat berkurang, otomatis anggaran pengelolaan sampah juga tidak bisa maksimal. Jadi harus kombinasi dengan provinsi, termasuk kerja sama dengan investor,” jelasnya.
Sejumlah investor, baik dari dalam maupun luar negeri seperti China, Malaysia, dan Singapura, telah melakukan presentasi tawaran kerja sama. Namun, pemerintah tetap berhati-hati dan tidak ingin bergantung sepenuhnya pada investasi asing karena prosesnya dinilai memerlukan waktu cukup panjang.
“Proses tetap kita jalankan. Jangan sampai bergantung pada investor luar negeri yang prosesnya masih lama. Mudah-mudahan ada jalan keluar terbaik untuk permasalahan sampah ini,” tegasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa






























