KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Isu mengenai ditemukannya beras oplosan atau campuran dengan yang tidak sesuai standar sempat ditemukan di wilayah Kabupaten Semarang.
Kasus ditemukan pada beras jenis premium atau kemasan 5 kilogram di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang.
Wartawan Lingkar pada Minggu, 20 Juli 2025 mencoba mendatangi pasar terbesar di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang, dan bertemu dengan salah satu pedagang sembako di Pasar Bandarjo, Ungaran, yaitu Muntiari (53) pemilik Toko Sembako Kartika di pasar tersebut.
Muntiari yang saat ditemui tengah sibuk menata dan merapikan beras-beras dalam kemasan premium itu mengatakan bahwa sejak munculnya kabar mengenai keberadaan beras oplosan dipasaran dikalangan pedagang, membuatnya saat ini untuk selalu mengecek isi satu-satu kemasan beras jenis premium yang sudah dibuka itu.
Dia menyebutkan, bahwa memang beberapa hari ini ia menemukan perbedaan warna butiran pada beras dalam kemasan yang berwarna hijau yang dia jual di kiosnya.
“Saya buka sendiri itu karena sebelumnya sempat ada petugas kepolisian datang untuk memeriksa beras-beras yang dijual di pasar ini, dan selain itu akhir-akhir ini juga ramai soal berita adanya beras oplosan di pedagang. Dan memang saya beberapa kali menemukan beras yang warnanya putih sekali, seperti beras ketan gitu, entah tercampur atau bagaimana, saya tidak tahu cuma warna butirannya berbeda, ada yang putih sekali seperti ketan dan ada yang tidak putih beras biasa,” katanya, Minggu, 20 Juli 2025.
Muntiari mengaku belum mengetahui secara pasti terkait adanya perbedaan warna dalam butiran beras itu sudah terjadi sejak lama dan menjadi hal yang normal atau tidaknya.
“Tapi, selama ini tidak ada keluhan yang disampaikan pembeli ke saya, dan kalau jenis beras yang paling laris dibeli oleh pembeli itu justru beras lokal yang harganya juga cukup terjangkau, justru bukan yang beras kemasan. Karena harga beras kemasan itu sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 77 ribu per 5 kilogramnya,” sebutnya lagi.
Bahkan ia sempat meyakinkan, jika rasa dan tekstur beras lokal dengan beras kemasan jika sudah dimasak rasa dan aromanya terbilang sama.
“Tidak ada perbedaannya, saya pernah mencoba memasaknya menjadi nasi, rasanya ya sama saja tidak ada perbedaan apapun,” imbuhnya.
Selain itu, adanya kabar soal maraknya ditemukan beras oplosan dikalangan pedagang, justru membuat pasokan beras ke tokonya mulai berkurang.
“Ya sejak ada isu beras oplosan, ini pasokannya berkurang. Biasanya datang satu truk, tapi sekarang ini justru saya tidak dikirim-kirim sudah beberapa hari ini. Jadi ya stoknya yang mulai berkurang, karena pengirimannya belum stabil seperti biasanya lagi,” bebernya.
Disisi lain, Lingkar coba bertanya dengan salah satu pembeli di pasar tersebut, yaitu Andi dan istrinya Ria (46 dan 44) yang merupakan warga Desa Kalongan, di Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Mereka mengaku tidak terpengaruh dengan adanya isu-isu soal keberadaan beras oplosan itu.
“Biasa saja bagi kami, dan tidak ada perbedaannya, kami tetap tenang dan kami tetap beli beras untuk dimasak menjadi nasi untuk kami akan sehari-hari di rumah. Dan selama ini kami juga tidak memperhatikan detail beras oplosan seperti apa atau bagaimana, karena selama ini beli beras dimasak jadi nasi, ya sudah begitu saja tetap kami makan selama ini kami beli beras di pasar,” terang mereka berdua.
Disisi lain, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kabupaten Semarang, Heru Subroto meminta kepada seluruh pedagang untuk segera melapor jika menemukan beras yang dicurigai merupakan beras oplosan.
“Karena kami siap menindaklanjutinya, dengan melakukan pemeriksaan secara langsung di lapangan. Makanya, kalaupun ada ditemukan beras oplosan, maka kami minta teman-teman yang ada di pasar untuk segera melaporkan ke dinas sesegera mungkin, karena memang itu yang bisa kami lakukan saat ini soal keberadaan beras oplosan,” kata Heru Subroto.
Meski demikian, Heru Subroto menegaskan bahwa sampai saat ini belum ditemukan temuan resmi terkait keberadaan beras oplosan di wilayah Kabupaten Semarang.
“Bahkan kami juga melakukan komunikasi intens dengan para kepala desa di wilayah Kabupaten Semarang untuk terus mengkonfirmasi situasi dan kondisi di lapangan. Dan semua kepala desa menjawab ke kami belum ada temuan soal keberadaan beras oplosan ini, karena mereka menjaga kualitas, namun kami tetap harus waspada soal kabar beras oplosan ini,” terang dia kembali.
Ia juga mengatakan, untuk pasokan beras di Kabupaten Semarang saat ini dalam kondisi baik dan aman.
“Pasokan aman, tidak ada kendala apapun untuk wilayah Kabupaten Semarang, bahkan tidak ada laporan pengurangan pasokan beras di Kabupaten Semarang,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman menyebut bahwa total terdapat 212 merek beras yang diduga tidak sesuai standar dan terindikasi merupakan beras oplosan.
Sejumlah merek di antaranya disebut beredar di wilayah Jawa Tengah, meski hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari distributor maupun produsen terkait temuan beras oplosan tersebut.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Sekar S






























