Viral Seorang Remaja Minta Kakeknya Ngemis, Ini Tanggapan Dinsos Grobogan

BANTU: Dinsos Grobogan saat memberikan bantuan ke rumah Mbah Suparjo, di Desa Kropak, Kamis 28 Juli 2022. (Muhamad Ansori – Lingkarjateng.id)

BANTU: Dinsos Grobogan saat memberikan bantuan ke rumah Mbah Suparjo, di Desa Kropak, Kamis 28 Juli 2022. (Muhamad Ansori – Lingkarjateng.id)

GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Beredar video seorang remaja perempuan di Dusun Bogo, Desa Kropak, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan memaksa kakeknya untuk mengemis. Video tersebut kemudian viral di media sosial Tiktok dan mendapat sorotan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Grobogan.

Kepala Dinsos Kabupaten Grobogan, Edy Santoso mengungkapkan bahwa viralnya video tersebut berbeda dengan kejadian yang sebenarnya.

“Tetangga iseng membuat video untuk dibuat status. Kemudian, diviralkan orang lain dengan ditambah narasi melalui aplikasi Tiktok. Apa yang diviralkan tidak sesuai dengan realita, karena selama ini masyarakat swadaya bergotong royong untuk membantu dan memberikan kebutuhan seperti makanan. Selain itu, pihak Desa Kropak turut berkontribusi memberikan kebutuhan kehidupan yang layak,” ujar Edy.

Adapun identitas remaja dalam video tersebut adalah SSB (11) dan kakeknya yang bernama Suparjo (70). SSB merupakan cucu Suparjo dan tinggal dalam satu rumah.

Kunjungan Dinsos Grobogan ke rumah Suparjo, lanjut Edy, untuk memberikan bantuan berupa sembako dan kasur.

Tak hanya itu, Dinsos Grobogan juga menindaklanjuti secara langsung dengan menggelar rapat koordinasi bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Kropak dan  Muspika Kecamatan Wirosari serta pihak terkait lainnya.

Lanjut Edy, hasil rapat itu, pihak Pemdes Kropak akan membiayai sekolah SSB di Pondok Pesantren Darul Aitam yang berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo. Sementara, untuk sang kakek akan di bawa ke panti lansia untuk mendapatkan perawatan.

“Karena  untuk pendidikan agama kurang. Untuk Mbah Suparjo, apabila dari pihak keluarga mengizinkan kami, Dinas Sosial akan membawa ke panti. Karena keluarga  Suparjo juga jarang pulang, mereka mencari nafkah di Semarang. Selain itu, pihak desa siap untuk berkomunikasi dengan keluarga apabila sudah pulang,” imbuhnya.

Namun, lanjut Edy, rencana itu harus sepengetahuan orangtuanya. Masalahnya, keberadaan kedua orangtua SSB hingga kini belum diketahui. Sejak lahir, anak tersebut ikut neneknya. Setelah neneknya meninggal pada tahun 2021, SSB tinggal bersama sang kakek. Saat ini, SSB duduk di kelas 6 SD.

Sebelumnya, keluarga SSB sempat mendapatkan bantuan sosial (bansos) PKH dan BPNT sampai dengan tahun 2021. Namun setelah ada penyepadanan NIK,  bantuan terhenti karena memiliki NIK ganda.

Untuk sementara waktu, lanjut Edy, SSB dan Suparjo akan mendapatkan pendampingan psikolog RSUD Purwodadi. Hal itu untuk memastikan kondisi mentalnya cukup baik ketika masuk ke ponpes dan panti lansia.

Sedangkan terkait viralnya video tersebut, Edy Santoso  mengatakan bahwa pihak berwajib akan memanggil orang yang mengunggah dan memviralkannya. Selain itu pihak desa akan selalu berkoordinasi untuk penanganan. (Lingkar Network | Muhamad Ansori – Koran Lingkar)