Regulasi Baru, Pedagang Pasar Peterongan Semarang Kecewa Pergeseran Lapak

MENGELUH: Erni (53), pedagang Pasar Peterongan Kota Semarang mengeluhkan regulasi pergeseran lapak pasar yang terkesan tidak adil. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

MENGELUH: Erni (53), pedagang Pasar Peterongan Kota Semarang mengeluhkan regulasi pergeseran lapak pasar yang terkesan tidak adil. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id Sejumlah pedagang di Pasar Peterongan, Kota Semarang merasa kecewa lantaran tidak mendapat bantuan sembako saat kedatangan orang nomor satu RI, Joko Widodo. Sakit hati mereka bertambah, sejak lahan lapak yang sudah di beli puluhan tahun lamanya, kini harus digeser oleh pihak pasar.  

Seperti yang dialami oleh Erni (53), pedagang Pasar Peterongan yang sudah berjibaku selama 32 tahun lamanya. Ia mengaku rela, meski tidak mendapat sembako. Namun yang paling penting, kata dia, pemerataan lapak di Pasar Peterongan harus adil. 

Ia menjelaskan, lapak yang yang dibeli selama 71 tahun tersebut harus dipindah dan dialihkan di lantai 2 Pasar Peterongan.  Hal itu lantaran, imbas dari pembangunan mushola oleh pihak pasar.

“Saya disini 31 tahun yang lalu, saya jualan. Dari ibu saya, sudah 40 tahun yang lalu,” ucapnya.  

Ia menyebut, pemindahan tersebut hanya bersifat sementara. Namun hingga kini, belum ada realisasi dari pemerintah untuk pengembalian lapak ke asal.

Ia juga mengaku, sudah beberapa kali melaporkan hal tersebut kepada dinas terkait. Sayangnya, dari dinas sendiri hanya memberikan suatu harapan palsu.

“Sudah pernah kali ngomong sama kepala dinas hingga beberapa tahun tapi tidak ada tanggapan. sampai berganti kepala pasar hingga kepala dinas. Tapi, nyatanya sampai sekarang belum terealisasi,” keluhnya.

Dalam pantauan, keberadaan lantai 2 di Pasar Peterongan memang agak sepi. Bahkan hanya beberapa pedagang daging sapi dan kambing yang bisa dihitung. Begitu pun ruangan khusus pedagang daging di lantai 2 yang agak kurang terawat.

Erni pun membeberkan, sejak lapaknya dipindah, para pembeli juga berkurang. Bahkan dalam satu hari, konsumen dia bisa dihitung jari. Kebanyakan pembeli, kata Erni, hanyalah para pelanggan lama.

“Kebanyakan hanya pelanggan lama yang beli, orang lain ‘kan tidak tahu jika di lantai 2 ada pedagang daging,” bebernya.

Ia mengatakan, keberadaan pedagang daging di lantai 1 kini bermunculan. Para konsumen juga lebih memilih untuk bertransaksi di sana, karena tidak perlu membuang tenaga untuk naik ke lantai atas. Sehingga ia merasakan haknya tidak adil.

“Ya, tidak adil saja,” ucapnya.

Ia berharap, para pedagang daging diberikan tempat khusus, agar tidak terlalu liar di luar. Jika hal itu dibiarkan secara terus menerus, maka akan berakibat pendapatan pedagang daging di lantai 2 semakin berkurang.

“Seperti Pak Hendi sampaikan, pedagang yang liar bisa dimasukkan ke lapak yang masih mangkrak di atas. Otomatis ramai banyak temannya, paling tidak ditertibkan di bawah bisa untuk parkir dan orang bisa mengetahui, sehingga ada ketertiban,” tandasnya. (Lingkar Network | Adimungkas – Koran Lingkar)