Dijuluki Bengkel Kepala, Begini Kesibukan Warga Bustaman Semarang saat Idul Adha

MEMBERSIHKAN: Sejumlah warga Kampung Bustaman, Kota Semarang menyediakan jasa pembersihan kepala hewan kurban. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

MEMBERSIHKAN: Sejumlah warga Kampung Bustaman, Kota Semarang menyediakan jasa pembersihan kepala hewan kurban. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id Sejumlah warga Kampung Bustaman mendapatkan berkah yang melimpah di Idul Adha. Pasalnya kampung yang terkenal dengan Kampung Jagal Bustaman itu mempunyai ciri khas tersendiri dibanding dengan kampung lain di Kota Semarang. 

Ciri khas tersebut, terlihat adanya jasa pengulitan atau pembersihan kepala hewan kurban seperti sapi dan kambing. Keberkahan tersebut dialami oleh Siti Khasanah (51). Ia mengatakan, dalam sehari, ia mampu menerima 25 pesanan pembersihan kepala sapi dan kambing hewan kurban.

Terkait harga jasa pembersihan, kata dia, berbeda-beda tergantung dari besar kecilnya ukuran kepala. Untuk kepala sapi, ia bandrol dengan harga Rp 350 ribu, sedangkan untuk kepala kambing ia bandrol dengan harga Rp 50 ribu.  

“Dengan harga segitu sudah bersih,” ungkapnya.

Seperti diketahui, keahlian warga Kampung Bustaman membersihkan kepala kambing dan sapi ini sudah sangat lama. Bahkan, keahlian tersebut sudah turun-temurun, hingga tiga keturunan.  

Hal itulah yang membuat warga Kota Semarang percaya, bahkan berani membayar jasa pembersihan kepala hewan kurban hingga ratusan ribu rupiah.

Warga Kota Semarang menyebut, Kampung Bustaman merupakan kampung “Bengkel Kepala” setiap momen Idul Adha. Lebih lanjut, Siti Khasanah mengaku, telah menekuni jasa bengkel kepala sejak ia berumur 10 tahun.

Ia menjelaskan, dulunya hanya iseng-iseng membantu kedua orang tuanya membersihkan kepala sapi. Namun, karena pendapatan yang menggiurkan, kini malah ia lakukan secara terus-menerus. 

“Dulu ikut-ikutan orang tua saja,” ujarnya

Ia menyebut, untuk jasa pembersihan di Kampung Bustaman sejak dulu sudah sangat banyak. Namun, jasa tersebut kini berkurang, karena tidak adanya minat para pemuda dalam meneruskan perjuangan pengulitan tersebut.

Sementara itu, Sutikno Sarah (71) salah satu pelanggan yang kerap mengunjungi Kampung Bustaman mengaku, sudah menggunakan jasa pembersihan hewan kurban sejak tahun 80-an. Dirinya merasa terbantu dengan adanya jasa pembersihan kepala hewan di Kampung Bustaman ini.

“Sangat terbantu, karena untuk mengolah kepala sapi dan kambing itu tidak mudah,” ungkapnya.

Ia menyebut, para penyedia jasa pengulitan di Kampung Bustaman sangat terlatih, sehingga ia tak ragu untuk membayar upah berapapun. (Lingkar Network | Adimungkas – Koran Lingkar)