PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menyoroti banjir di perlintasan jalur kereta api (KA) Pekalongan-Sragi yang mengakibatkan keterlambatan sejumlah perjalanan kereta api baru-baru ini.
Bersama Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin, Menhub Dudy turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terukur pada Rabu, 21 Januari 2026.
Menhub Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa penanganan banjir jalur KA Pekalongan–Sragi tidak boleh bersifat tambal sulam.
“Curah hujan saat ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga penanganannya tidak cukup sementara, tetapi harus dipikirkan jangka panjang,” ujarnya.
Peninjauan dilakukan di sejumlah titik kritis yang terdampak luapan air akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Pantura dalam beberapa hari terakhir.
Sebagaimana diketahui, banjir yang menggenangi jalur perlintasan kereta api Pekalongan–Sragi ini berdampak langsung pada kelancaran perjalanan kereta api penumpang dan logistik nasional.
Curah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan Sungai Bermi dan Sungai Meduri meluap hingga menggenangi jalur rel di Km 88+400 serta Km 88+900 sampai Km 89+100.
Air yang menggenang di atas rel memaksa operator memberlakukan pembatasan kecepatan demi menjaga keselamatan perjalanan kereta api.
Pembatasan tersebut berimbas pada keterlambatan perjalanan bahkan pembatalan sejumlah layanan kereta api jarak jauh.
Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya jalur strategis Pekalongan–Sragi terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Menurutnya, solusi permanen dibutuhkan agar jalur vital ini tidak terus-menerus terganggu setiap musim hujan tiba. Ia juga menekankan bahwa penanganan banjir bukan hanya tanggung jawab KAI, melainkan kerja bersama lintas sektor.
“Ada titik-titik yang melibatkan pemerintah daerah, provinsi, hingga kementerian dan lembaga yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan sungai,” jelas Menhub Dudy.
Sementara itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa dampak banjir jalur kereta api Pekalongan–Sragi sangat signifikan bagi operasional.
Sejak 16 hingga 19 Januari 2026, KAI mencatat dua titik utama genangan air yang menyebabkan 124 perjalanan kereta api penumpang terpaksa dibatalkan.
Pembatalan ini dilakukan demi menjamin keselamatan penumpang di tengah kondisi prasarana yang belum sepenuhnya pulih.
“KAI memberlakukan pengembalian bea tiket 100 persen bagi seluruh pelanggan terdampak pembatalan,” kata Bobby.
Dia menambahkan bahwa pengajuan refund dapat dilakukan hingga tujuh hari dan saat ini telah dimanfaatkan oleh banyak pelanggan. Selain refund, KAI juga menjalankan service recovery bagi penumpang yang mengalami keterlambatan perjalanan.
Sedangkan dari sisi teknis, KAI melakukan operation recovery untuk mengembalikan keandalan prasarana secepat mungkin. Dalam penanganan darurat, jalur rel telah ditinggikan sekitar 23 sentimeter di titik-titik terendah.
KAI merencanakan peninggian lanjutan hingga maksimal 50 sentimeter sepanjang kurang lebih 600 meter. Pekerjaan tersebut mencakup penyesuaian struktur jembatan dan emplasemen yang sebelumnya teridentifikasi mengalami cekungan.
Bobby Rasyidin menyebut progres pemulihan sudah menunjukkan hasil positif.
“Saat ini perjalanan KA sudah pulih sekitar 85 persen dan tidak ada lagi pembatalan,” ujarnya.
Namun, sekitar 15 persen perjalanan masih mengalami keterlambatan akibat pembatasan kecepatan di sejumlah titik. KAI berharap cuaca segera membaik agar proses pemulihan dapat diselesaikan lebih cepat.
“Kami berkomitmen mengutamakan keselamatan, keandalan layanan, dan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.





























