PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Lahan jagung di kawasan Batalyon Infanteri (Yonif) 407/Padmakusuma Kabupaten Pekalongan banyak yang roboh akibat disapu angin kencang pada awal Januari 2026.
Konsultan pertanian Deruci Agrikultur, Handono Warih, mengatakan sebagian tanaman jagung di lahan tersebut rebah diterjang angin kencang. Namun, secara umum kondisinya masih dapat ditangani.
“Kalau saya sih nggak kaget. Wajar kalau sebagian tanaman jagung rebah, karena kita lihat sendiri atap bangunan dari sekolah, rumah sakit, sampai baliho saja banyak yang tumbang. Apalagi tanaman atau pohon,” kata Handono, Selasa, 13 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kawasan Wonopringgo dan sekitarnya secara geografis merupakan daerah pertemuan antara wilayah perbukitan dan dataran rendah, sehingga rawan terjadi turbulensi angin, terutama saat musim hujan dan cuaca ekstrem.
Berdasarkan asesmen internal tim teknis, Handono menyebut sekitar 10 persen tanaman jagung terdampak, tetapi kerusakan tidak bersifat total.
“Yang rebah itu tidak sampai rata dengan tanah. Sisanya masih bisa kita optimalkan lagi dengan penguatan nutrisi, antioksidan, betakaroten, dan asam amino untuk mengejar produktivitas,” jelasnya.
Handono mengimbau para petani agar tidak larut meratapi kerugian akibat bencana, melainkan fokus merawat tanaman yang masih tersisa agar tetap produktif.
Lebih lanjut, Handono menekankan pentingnya asuransi pertanian sebagai instrumen perlindungan modal, terutama bagi petani dengan lahan di atas dua hektare atau untuk kegiatan pertanian skala besar.
“Asuransi itu bukan untuk mengganti seluruh hasil panen, tapi untuk menjaga keselamatan modal. Minimal kalau terjadi bencana besar, kita masih bisa balik modal,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengakui hingga saat ini belum menemukan layanan asuransi khusus tanaman jagung yang mudah diakses di Kabupaten Pekalongan.
“Terus terang, untuk asuransi jagung di Pekalongan ini belum ada yang dekat atau jelas. Jadi kami masih mencari-cari, kadang juga bingung harus ke mana,” ungkapnya.
Handono berharap ke depan ada pihak asuransi yang bersedia masuk dan menyediakan perlindungan bagi petani jagung, termasuk bagi mitra binaan Deruci Agrikultur.
“Karena wilayah Kabupaten Pekalongan ini rawan sekali berbagai macam bencana, walaupun bencana itu tidak kita harapkan ya.” Jelasnya.
Dalam konteks nasional, ia menilai jagung memiliki peran strategis karena masuk dalam program ketahanan pangan, termasuk yang saat ini dijalankan oleh instansi TNI untuk mendukung target swasembada jagung Indonesia tahun 2026.
“Kalau Cuma lahan kecil mungkin dampaknya tidak terlalu terasa. Tapi kalau sudah puluhan hektare, seperti program ketahanan pangan, risikonya besar. Maka pertanian jagung memang harus terus diperkuat, termasuk perlindungan modalnya,” tuturnya.
Handono mengajak para petani untuk mendukung penuh program Swasembada Jagung Indonesia 2026 dengan mengikuti arahan petugas penyuluh lapangan (PPL) maupun petugas pertanian setempat.
Ia juga meminta pemerintah pusat hingga daerah agar lebih memperhatikan aspek keselamatan sektor pertanian.
“Mulai dari keselamatan pekerja, tanamannya, sampai modal petani. Kalau semua diperkuat, saya yakin pertanian kita bisa lebih tahan terhadap bencana,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa






























