Kudus (lingkarjateng.id) – Lembaga donor negara Swiss tertarik melakukan pengembangan teknologi pengolahan sampah di Indonesia. Setelah berhasil membantu di Pemalang Jawa Tengah, kini membuka peluang baru bagi Kabupaten Kudus.
Pemkab Kudus menyebut, inisiatif yang dibawa melalui jejaring komunitas lingkungan tersebut mengarah pada dukungan pengembangan waste to energy berbasis refuse derived fuel (RDF), yang dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan insinerator.
“Donor Swiss sebelumnya telah terlibat dalam proyek serupa di Pemalang dan kini menjajaki kemungkinan kerja sama di daerah lain, termasuk Kudus,” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperinda) Kudus, Sulistyowati, Selasa (3/2/2026).
“Dari pusat ada inisiatif menggandeng donor Swiss yang sebelumnya membantu Pemalang. Kami sampaikan bahwa di Kudus, insinerator bukan pilihan utama. Itu opsi terakhir,” imbuhnya.
Menurut Sulistyowati, pendekatan RDF sejalan dengan kecenderungan global yang didorong negara-negara Eropa, termasuk Swiss, yakni mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.
“RDF dapat dimanfaatkan sebagai substitusi batu bara untuk industri, salah satunya pabrik semen, sehingga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon,” tutur dia.
Lebih lanjut dikatakan Sulistyowati, bahwa Pemkab Kudus sendiri telah memiliki fasilitas RDF dengan kapasitas sekitar 30 ton per hari dan sedang mematangkan kerja sama pemanfaatan dengan PT Semen Gresik Rembang.
Di tengah proses tersebut, peluang dukungan dari donor internasional dinilai dapat memperkuat sisi teknologi, pembiayaan, maupun pengembangan infrastruktur baru.
“Selain fasilitas yang sudah ada, Kudus juga merencanakan pembangunan beberapa titik RDF tambahan agar pengolahan sampah lebih merata di seluruh wilayah.
Keterbatasan lahan membuat pemerintah daerah membuka opsi investasi pihak ketiga maupun skema kemitraan, yang berpotensi menarik minat lembaga asing,” terang Sulistyowati.
Dirinya menegaskan, minat dari Swiss menjadi sinyal positif bahwa kebijakan Kudus mulai dilirik dalam peta pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular. Dukungan internasional tentu akan sangat membantu, baik dari sisi pendanaan maupun transfer teknologi,” pungkasnya.***
Jurnalis : Fatur Rohman Editor : Fian
































