SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perdagangan Kota Semarang telah menginspeksi mendadak ke sejumlah pasar tradisional hingga ritel modern menyusul isu beras oplosan.
Pengawasan dilakukan di titik-titik distribusi utama seperti Pasar Dargo (Sentra Beras), serta beberapa ritel seperti Superindo, Alfamidi, dan ADA Swalayan.
Hasil inspeksi pada 18 dan 21 Juli 2025, Pelaksana tugas Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva memastikan peredaran beras di wilayahnya sejauh ini masih aman dan sesuai standar, tidak ada temuan beras oplosan di lapangan.
“Hasilnya, Alhamdulillah tidak ditemukan beras oplosan. Semuanya sesuai dengan instruksi yang sudah ada di peraturan Badan Pangan Nasional. Kadar airnya juga tidak menyimpang, timbangannya juga cukup. Alhamdulillah, Kota Semarang aman,” ujar Aniceto, Kamis, 24 Juli 2025.
Dinas Perdagangan melibatkan petugas metrologi legal dengan alat uji kadar air dan timbangan untuk memastikan tidak ada pelanggaran dalam standar kualitas dan kuantitas beras yang beredar di pasar.
Meski demikian, Aniceto mengakui bahwa harga beras medium non-SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) masih relatif tinggi, yakni di kisaran Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram, atau diatas harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500.
“Kota Semarang ini kan bukan penghasil beras, sehingga untuk beras medium harganya memang agak tinggi dibanding daerah lain. Ini yang menjadi perhatian kita. Ke depan, kami akan terus berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan untuk mencari solusi, termasuk potensi subsidi,” terangnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar cermat dan teliti saat membeli beras.
“Kalau ingin beras berkualitas baik dan murah, masyarakat bisa membeli beras SPHP yang sudah dijamin standarnya oleh Bulog,” jelasnya.
Sedangkan untuk menjaga keberlanjutan keamanan distribusi beras, Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan juga akan rutin melakukan monitoring dan pengawasan pasar setiap bulan sebagai bagian dari program pengendalian pangan di Kota Semarang.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa






























