REMBANG, Lingakarjateng.id – Hamparan tambak garam di wilayah Kaliori, Rembang, tampak masih kosong dan belum memulai proses produksi. Padahal saat ini sudah memasuki bulan Juli, waktu yang biasanya menjadi masa panen awal bagi para petani garam di daerah tersebut.
Sukadi warga Desa Purworejo RW1, salah satu petani garam mengatakan keterlambatan ini disebabkan oleh musim kemarau yang datang lebih lambat dari biasanya.
“Biasanya bulan Mei akhir itu sudah mulai panen, tapi tahun ini musim kemaraunya mundur. Katanya BMKG kemarau pendek, tapi kita belum tahu, semua tergantung yang di atas,” ujar Sukadi di sela kegiatannya meratakan lahan tambaknya, Rabu, 9 Juli 2025.
Sebelum produksi garam dimulai, petani biasanya memanfaatkan tambak untuk budidaya ikan bandeng dan udang. Setelah panen lima bulanan, tambak akan dikeringkan untuk produksi garam saat musim kemarau tiba. Namun hingga kini, proses persiapan tambak baru sebatas perataan lahan.
“Kalau lancar tidak ada hujan, insyaallah minggu ini mulai pasang membran. Tapi semua tergantung cuaca. Kemarin saya lihat di HP, minggu ini cuacanya cerah,” lanjutnya.
Keterlambatan ini, disinyalir bisa berdampak pada harga garam di pasaran. Harga garam yang sempat berada di kisaran Rp800 per kilogram pada bulan Mei, kini melonjak menjadi Rp1.600 per kilogram karena pasokan yang belum tersedia.
“Kalau panen sudah mulai bulan lima, pasti harga jatuh. Tapi ini belum ada hasil, jadi harga naik. Memang cuacanya nggak bisa diprediksi, air laut juga masih tercampur air hujan, belum cocok untuk produksi,” jelas Sukadi.
Kondisi ini memperparah beban petani yang sebagian besar hanya sebagai penggarap lahan milik orang lain, dengan sistem bagi hasil.
“Kalau panen dua ton, satu ton buat penggarap, satu ton buat pemilik lahan. Kita kerja keras, yang penting hasilnya cukup buat harian,” tambahnya.
Sukadi juga menyoroti praktik permainan harga oleh tengkulak yang dinilai masih marak terjadi.
“Harga itu ditentukan tengkulak. Kayak gula, ditimbun pas murah, dilempar lagi pas harga naik. Petani cuma kerja, nggak bisa ngatur harga,” katanya.
Ia berharap pemerintah konsisten menjaga harga garam dengan tidak mengimpor garam dari luar negeri.
“Kalau nggak impor, harga garam bisa stabil. Katanya tahun 2027 sudah ada programnya.”
Meski demikian, harapan tetap ada.
“Kalau dua bulan ke depan cerah dan ada angin timur laut, insyaallah bisa panen. Panas saja nggak cukup, harus ada anginnya supaya kristalisasi garam maksimal,” pungkas Sukadi.
Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di atas normal dari yang seharusnya terjadi di musim kemarau, keadaan ini biasa dikenal dengan kemarau basah. Anomali curah hujan yang terjadi sejak Mei 2025 ini diprediksi akan terus berlangsung hingga Oktober 2025.
Jurnalis: Muhammad Faalih
Editor: Sekar S





























