SEMARANG, Lingkarjateng.id – Suasana Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) terasa berbeda pada Senin pagi, 8 September 2025. Ratusan mahasiswa dan masyarakat umum berkumpul dalam sebuah ruang dialog yang hangat, yakni pada acara Jagongan Budaya 2025.
Kegiatan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPGRIS ini menghadirkan maestro tari Didik Nini Thowok sebagai narasumber utama.
Jagongan Budaya 2025 bukan sekadar acara seremonial. Forum ini dirancang sebagai tempat bertemunya unsur tradisional dan modern, lokal dan global, dalam suasana santai namun sarat makna.
Acara ini juga merupakan program kerja dari Kementerian Seni dan Budaya BEM UPGRIS, yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk lebih mengenal, memahami, dan melestarikan budaya Indonesia. Tujuannya yakni mengingat, menghormati, dan melestarikan warisan budaya bangsa agar tetap hidup di tengah arus digitalisasi.
“Budaya lokal kita punya napasnya masing-masing. Setiap daerah unik, bahkan pada detail terkecil, mulai dari logat, ungkapan khas, hingga cengkok tembangnya,” ujar Didik Nini Thowok.
Ia menegaskan pentingnya menggali potensi budaya lokal agar naik kelas menjadi produk kebudayaan bernilai tinggi.
Menurut Didik, publikasi kreatif dan konsisten di media sosial adalah kunci memperluas jangkauan budaya.
“Para kreator konten perlu berpikir strategis, bersinergi dengan berbagai pihak, dan memanfaatkan teknologi secara maksimal,” katanya.
Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, yang turut hadir dalam acara itu mengingatkan pentingnya pemahaman mendalam sebelum memproduksi konten digital.
“Konten digital efektif mengenalkan tradisi Indonesia, tetapi kita harus benar-benar memahami budaya sendiri agar tidak keliru menafsirkan,” jelasnya.
Sementara itu, Presiden BEM UPGRIS, M. Sauki Taufiqurrahman, menyebut kehadiran Didik Nini Thowok sebagai kesempatan emas.
“Eyang Didik menjadikan tari sebagai bahasa kearifan lokal yang tetap hidup di tengah derasnya arus zaman. Pengalaman beliau hingga kancah internasional penting untuk membuka mata kita,” ujarnya.
Ketua panitia dalam laporannya mengungkap rasa syukur atas terselenggaranya acara ini dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung.
Jagongan Budaya 2025 pun menjadi bukti nyata bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga wadah untuk menjaga identitas budaya bangsa.
Editor: Rosyid





























