KUDUS, Lingkarjateng.id – Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Kudus sejak Jumat hingga Sabtu, 9-10 Januari 2026, memicu rangkaian bencana hidrometeorologi basah di sejumlah wilayah. Bencana tersebut meliputi banjir, limpasan sungai, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem yang berdampak luas pada masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat ribuan warga terdampak akibat peningkatan debit sungai dan kondisi tanah yang labil.
Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji, menjelaskan curah hujan tinggi di kawasan hulu Pegunungan Muria menyebabkan Sungai Gelis, Piji, dan Dawe meluap ke permukiman warga.
“Intensitas hujan yang tinggi membuat tanah menjadi labil dan tidak mampu menahan resapan air. Dampaknya terjadi banjir, genangan, serta longsor di berbagai titik di Kabupaten Kudus,” ujar Ahmad Munaji, Sabtu, 10 Januari 2026.
Berdasarkan laporan situasi BPBD Kudus hingga pukul 20.00 WIB, sebanyak 4.668 kepala keluarga (KK) atau 14.143 warga terdampak bencana tersebut.
Banjir dan limpasan sungai tercatat melanda Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae dengan ketinggian air berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter.
Di Kecamatan Mejobo, banjir merendam Desa Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno. Desa Mejobo menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 600 kepala keluarga atau 1.741 jiwa terdampak, serta air masuk ke rumah warga di 30 kepala keluarga.
Sementara itu, limpasan Sungai Gelis di Kecamatan Kota menggenangi Desa Singocandi. Sebanyak 70 kepala keluarga atau 261 jiwa terdampak dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 40 sentimeter, yang sempat memaksa sebagian warga mengungsi sementara.
Banjir juga melanda Kecamatan Jekulo, tepatnya di Desa Hadipolo, dengan jumlah warga terdampak mencapai 600 kepala keluarga atau 1.870 jiwa. Di Kecamatan Bae, Desa Ngembalrejo terendam banjir dengan 650 kepala keluarga atau 1.961 jiwa terdampak, serta 40 rumah warga terendam air.
Selain banjir, BPBD Kudus mencatat puluhan titik tanah longsor di Kecamatan Dawe, Gebog, dan Bae. Kecamatan Dawe menjadi wilayah dengan kejadian longsor terbanyak, di antaranya di Desa Japan, Kuwukan, Ternadi, Colo, dan Kajar.
Salah satu longsor terparah terjadi di jalur wisata religi Makam Sunan Muria, Desa Colo. Jembatan portal dan badan jalan ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 20 meter, hingga menyeret dua mobil ke sungai. Tiga orang berhasil dievakuasi petugas dalam kondisi selamat.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menegaskan pemerintah daerah bergerak cepat dalam penanganan bencana dengan mengerahkan seluruh perangkat daerah serta memperkuat koordinasi lintas instansi.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Seluruh OPD kami minta siaga dan jemput bola ke lokasi terdampak,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kudus juga mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta lereng Pegunungan Muria untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.
Jurnalis: Mohammad Fahtur Rohman
Editor: Rosyid





























