BATANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menargetkan perputaran transaksi pada Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) 2025 dapat menembus angka Rp 2 miliar.
Target tersebut sejalan dengan semangat mendorong sektor ekonomi kreatif sebagai penopang utama perekonomian dan pariwisata daerah.
Festival Ekraf digelar di sepanjang Jalan Veteran dan melibatkan ratusan pelaku UMKM, komunitas kreatif, serta masyarakat. Acara ini menjadi ajang promosi berbagai produk lokal, mulai dari batik, kerajinan, hingga kuliner khas Batang.
“Bahwa potensi ekonomi kreatif di Batang sebenarnya sangat besar. Selama ini sejumlah brand lokal bahkan sudah berhasil menembus pasar nasional hingga internasional,” kata Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat ditemui usai meninjau festival.
Faiz menambahkan, pemerintah daerah siap mendampingi pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas pasar, termasuk melalui program business matching dengan negara mitra.
Komitmen ini juga ditunjukkan dengan rencana penyelenggaraan festival secara berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.
“Pemkab Batang berkomitmen mengembangkan festival serupa secara berkelanjutan. Jika tahun pertama digelar di pusat pemerintahan sebagai simbol hadirnya pemerintah, maka tahun-tahun berikutnya direncanakan festival akan dipusatkan di kawasan wisata untuk sekaligus mendongkrak kunjungan pariwisata,” jelasnya.
Ia menjelaskan, target transaksi Rp 2 miliar pada Festival Ekraf kali ini mengacu pada capaian kegiatan karnaval sebelumnya yang hampir menyentuh angka serupa.
“Ditambah tadi ada foto booth dari PLTU Batang yang menampilkan bangunan pabriknya yang menjadi spot foto bagi pengunjung di sana,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Batang, Faelasufa Faiz, menyampaikan pentingnya penguatan sektor-sektor unggulan, seperti batik, kerajinan kayu, dan kuliner.
Ia menyoroti tantangan yang masih dihadapi, terutama pada regenerasi dan pengelolaan industri batik.
“Kualitas batik Batang sejatinya tidak kalah dengan kota lain seperti Pekalongan atau Solo, namun masih menghadapi tantangan regenerasi dan manajemen industri,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa dokumentasi terhadap motif batik khas Batang, seperti Rifaiyah, menjadi salah satu upaya pelestarian yang tengah dilakukan, disertai dorongan agar pelaku ekonomi kreatif aktif mengikuti pameran, fashion show, dan event nasional.
Sumber: Pemkab Batang
Editor: Rosyid






























