PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Sumar Rosul, menyoroti alih fungsi lahan di sempadan sungai sebagai salah satu faktor yang memperparah banjir di Kecamatan Tirto.
Sumar Rosul dalam rapat koordinasi percepatan penanganan banjir pada Rabu, 28 Januari 2026 menyampaikan bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya bersifat darurat, tetapi juga harus menyentuh akar persoalan. Salah satunya dengan menegakkan aturan tata ruang, khususnya terkait pemanfaatan lahan di sepanjang aliran sungai.
“Banjir ini bukan hanya soal hujan dan rob, tapi juga karena ada persoalan tata ruang. Ke depan, pemerintah harus tegas menegakkan Perda Tata Ruang, termasuk terhadap bangunan di area sempadan sungai,” ujarnya.
Dalam rapat dilaporkan bahwa banjir di Kecamatan Tirto berlangsung hampir dua pekan dan berdampak pada Desa Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo. Sekitar 1.600 jiwa terpaksa mengungsi di 17 titik pengungsian. Untuk kebutuhan konsumsi, bantuan telah didukung oleh Kementerian Sosial.
Meski demikian, Sumar Rosul menyebut masih terdapat kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian. Ia menerima laporan bahwa stok obat-obatan mulai menipis.
“Terutama obat diare, salep kulit, dan minyak angin. Selain itu, pengungsi juga membutuhkan tambahan selimut, susu formula, serta pakaian layak pakai,” jelasnya.
Kondisi fasilitas MCK juga menjadi perhatian serius. Saat ini, satu unit toilet digunakan oleh ratusan pengungsi sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika tidak segera ditangani.
Sumar Rosul menegaskan bahwa rapat koordinasi digelar untuk memperkuat sinergi antarinstansi agar penanganan di lapangan berjalan lebih efektif. Selama ini, koordinasi lebih banyak dilakukan melalui sambungan telepon dan pesan singkat.
“Selama ini koordinasi banyak dilakukan lewat telepon dan WhatsApp. Hari ini kita duduk bersama agar persoalan di lapangan bisa dibahas lebih detail dan solusinya lebih tepat,” kata Sumar Rosul.
Ia pun menekankan tiga prioritas utama dalam penanganan banjir, yakni pemerataan distribusi bantuan, optimalisasi pompa air, dan penjaminan layanan kesehatan bagi warga terdampak.
“Banjir ini persoalan kemanusiaan. Mari kita niatkan tugas ini sebagai ibadah dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa
































